I don’t know whether it’s giving agency or it’s just being individualistic.


That was my first impression when I saw some people just being ignorant seeing a blind girl trying to cross a street.
I took this bus with this young girl. I didn’t realize that she is blind until we got off from the bus. We crossed the street together. I just told her when the ‘WALK’ sign was on. At the end of street, she stopped and make a right turn. We went to a different direction. So, I decided to keep walking and stopped at a store to buy my lunch. When I was done, I saw this girl again, trying to cross the street, and she was helped by a man. He left after he informed her that it was a WALK sign. I walked and followed her from some distance. In fact, I was unsure what to do: whether to help her or not. I’m coming from a totally different cultural background, where handicaps are usually not (really) walking alone on the street (at least in the place I grew up). I was debating myself whether I should help her or just ignore her. I saw the people around, they just walked. Two things in my mind: They treat her like anybody else by giving her agency to herself or they are individualistic. After looking from some distance, I decided to walk together with her by first asking if she mind if I would be walking beside her, when she said no, I then asked where she wanted to go. As we walked, I was only giving her some directions a few times ” Keep going”, “go straight”. After a 15-minute walk, she said she was good. So, I decided to leave her while still keeping my eyes on her from some distance. It turned out that she was heading to a church right across the library I wanted to go. I told myself, “Ah, I should’ve just helped her from the bus stop”. It doesn’t mean that I didn’t treat her like anybody else…
Until this part, I have a little doubt of myself: What is the best way when one encounters this matter again? Help her? If by helping her, does it mean we don’t trust her or doesn’t treat her like any other people? or should I just walk away as she may have been doing it everyday? Ah, it may be a small stuff for others, but not for me. Humanity is really important. At least for me.

 

Dan emang dasar gue cengeng, gw malah nangis. Hebat perempuan ini. Gue dengan kondisi kayak gini aja masih ngeluh terus…..

Karena bahagia itu… harus kita definisikan sendiri…


Pagi ini. Salah satu obrolan ringan dengan beberapa sahabat saya di belahan dunia sana menggelitik saya. Saya yang memulai. Tentang Umur. Umur kami yang tidak lagi muda (age is mind over matter, no? :p if you don’t mind, it doesn’t matter!).

Teman saya bilang, kira-kira begini: “Hidup di usia sekarang hanya untuk bekerja, lalu fokus menjadi tauladan anak.”

Saya setuju. Ya, buat kebanyakan orang tua, apalagi yang lebih penting selain menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya kan?

Tidak lama kemudian, teman tersebut meralat ucapannya, kali ini kata anak dihilangkan. Lalu meminta maaf pada saya. Saya bingung, lalu saya tanya: “Kenapa minta maaf?.” Saya kemudian sadar, “Karena masalah anak? Ah, gak papa kali.”

Saya bersyukur teman saya ini sensitif. Tapi, sungguh, saya tidak merasa apa-apa. Jadi tidak perlu repot-repot menghilangkan topik tentang anak, jika saya sedang berada di dekat kalian semua atau di chat Whatsapp kita. Jika saya bisa ikut nimbrung, saya akan kontribusi. Jika saya tidak punya pengetahuan cukup, saya bisa menjadi pendengar. Mendengar yang akhirnya membuat saya belajar.

Buat saya kebahagiaan orang lain, tidak mendefinisi arti kebahagiaan buat saya. Saya senang apabila teman-teman saya memasang foto anak-anak mereka yang lucu dan mungil di Facebook, Path. Saya kasih jempol. Jempol yang buat saya artinya “Saya suka foto anak ini. Anak ini lucu. Menggemaskan.”   Tidak  lebih tidak kurang. Tidak ada makna pragmatis lain.

Untuk perempuan seusia saya punya anak kan sudah kurva normal. Saya yang outlier. Lalu, karena saya tidak berada di dalam garis rata-rata,  saya lantas menjadi sedih, marah, dan kecewa?  saat senyum teman-teman yang terkembang saat menggendong anak-anak mereka yang lucu, masa saya malah menangis? Alhamdulillah sejak dulu dan sampai sekarang saya tidak pernah dihinggapi rasa itu. Mungkin saya percaya bahwa tiap orang berhak memilih jalannya untuk berbahagia, dan bersyukur. Ada banyak hal dalam hidup untuk  bisa kita syukuri: Punya anak pintar cerdas, punya pasangan yang pengertian, punya orang tua yang kaya-raya, ah ada banyak! Terlalu banyak untuk ditulis satu persatu. Tapi kan gak mesti punya semua lantas kita baru bisa bahagia, kan? Minimal buat saya sih, punya satu diantaranya, sudah bisa membuat saya bahagia!

Buat saya, hidup saya hari ini, makanan yang saya makan, punya waktu untuk bercerita dengan teman-teman jauh dan dekat, bisa punya waktu membaca dan menulis lalu ngobrol-ngobrol ringan dan bodoh dengan si Lesky, bisa membuat bahagia.

Kebahagiaan kita tidak harus sama definisinya dengan orang lain. Itu yang saya pelajari.

Pagi ini sebuah SMS saya kirimkan ke seorang teman, isinya: “You are one of positive people I know. I learn that people who are content with their life will do justice to others. Those who are insecure may be unhappy with theirs so they take it out to others.”

Dan  seiring perjalanan waktu, saya pun belajar untuk tidak merecoki kebahagiaan orang lain, hanya karena sesuatu yang tidak saya punya. Meskipun tidak terlalu agamis, saya percaya Allah selalu punya rencana indah untuk umatnya. Termasuk saya.

Wallahualam,

Madison, hari ketiga Musim Semi.

International happy day is celebrated every March 20!

Let’s be happy and stay happy!

Image

1826: Nelly Martin’s Newest Novel


1826: Nelly Martin's Newest Novel

Insya Allah beredar di toko buku Jabodetabek sekitar tanggal 15 April. Luar Jabodetabek 25 April. Beli ya! Ya! Ya! Ternyata yg kasih endorsement si Chincha Laura hihihi.

Saat ini bisa melakukan pre-order melalui saya (tapi pembayaran langsung dilakukan ke penerbit). Silakan kirim nama, alamat, dan nomor HP ke sonellymartin@gmail.com, nanti saya order langsung ke penerbit dan dikirimkan ke alamat pembeli