Menjelang Sepuluh Tahun Perayaan Bersama Kamu


Satu hari. Setelah sekian lama gak nonton bioskop berdua. Hujan deras di Madison di sore itu. Gak ada payung. Karena sudah agak terlambat, saya tinggalkan Lesky yang masih asik cek-cek sesuatu di mobil. Saya mau antri tiket. Saat masih kira-kira beberapa meter di depan teater, tau-tau ada sepasang langkah yang mengikuti saya dan memayungkan jaketnya ke kepala saya dan menggapai bahu saya agar lebih mendekat. Kami berdua berpayung jaket.

Lalu kata saya: “Wah, romantis amat nih. Hujan-hujanan dipayungin jaket.”

Dia ketawa: “Iya, udah kaya Oppa (Korean Oppa) kan?”, kami tertawa.

“Ya, sudah, kamu Opa dan saya Oma.” kata saya. Bercanda. Padahal ingin mengaburkan buncahan hati yang ingin keluar menyeruak.

Sesungguhnya ada desiran hangat yang mengalir di dada saya. Saya tersenyum, sepuluh tahun sudah bersama dia, tetapi rasanya masih seperti kami pertama kali berjumpa. Getaran yang sama saat masih sama-sama berusia 15 tahun. Semoga masih terasa seperti ini, sampai kita sudah lupa menghitung jumlah lilin di kue ulang tahun kita.

Madison, Juli akhir, 2014.

Quick count, Legowo dan sebuah Perayaaan.


Quick count, Legowo dan sebuah Perayaaan.

Saat saya menuliskan kata legowo, saya sedang tidak memikirkan sebuah pesta, sebuah selebrasi. Saya memikirkan lebih dari itu. Euphoria perayaan setelah perhitungan cepat (quick count) baru saya sadari saat seorang teman menyinggung di sebuah status. Pikiran saya tidak menjejak di situ, tapi sudah mengembara ke hal yang lebih jauh dan buat saya, lebih penting. Saya sedang berpikir lebih jauh dari sebuah selebrasi dan sebuah euphoria sesaat.

Saat sepasang calon mendeklarasikan kemenangannya berdasarkan hasil perhitungan cepat. Saya bernapas lega, tapi tetap berdoa agar proses perhitungan suara tetap jujur, adil dan aman. Subuh tadi, bersama dengan jutaan penduduk Indonesia yang harap-harap cemas menanti hasil perhitungan cepat, saya pun sama. Saya tidak hanya memantau satu buah hasil quick count, tetapi lima buah, dengan kriteria yang saya pikir akan memberikan hasil yang bisa dicross-check satu sama lain. Media-media itu adalah MetroTV, yang selalu saya cross check dengan Kompas, DetikNews, RRI dan SMRC juga SCTV (yang saya anggap lebih independen dan tidak berpihak). Juga sesekali mengintip TVOne.
Saat saya melihat deklarasi dari sepasang calon, saya sedikitnya bisa bernapas lega, sambil tentu saja berdoa agar semua pihak tetap siap menang dan siap kalah. Namun kelegaan itu hanya bersifat sementara saat saya mendengar kubu lain juga mengklaim kemenangan dengan selisih suara yang sangat tipis. Saya tidak akan membahas masalah lembaga quick count yang mendukung mereka, silakan Anda analisa sendiri.

Kepedulian saya yang utama adalah masalah berjalannya proses pemilu ini dengan aman dan lancar. AMAN. Itu hal yang menjadi concern saya yang utama. Mengapa lalu saya mengingat dan mengapresiasi tindakan Fauzi Bowo (Foke) saat dengan legowo mengakui kekalahannya di hadapan anggota keluarganya, untuk kemudian sholat bersama dan mengucapkan selamat kepada calon DKI 1 terpilih, meskipun hanya berdasarkan hasil perhitungan cepat? Karena sikapnya sangat berpengaruh pada para pemilih dan pendukungnya. Foke dengan berbesar hati dan berjiwa ksatria menghormati hasil lembaga-lembaga itu, yang (sebagian dari mereka, kredibel dan reliable) biasanya menampilkan hasil yang tidak jauh dari hasil penetapan KPU. Juga, kita perlu ingatkan lagi bahwa pada pemilu 9 April 2014, hasil quick count dan rekapitulasi KPU tidak bertolak belakang.

Apa dampaknya? Mudah-mudahan saya sedang tidak paranoid, tapi saya sangat khawatir akan terjadi dampak yang kurang baik dari tidak hadirnya sebuah jiwa ksatria seorang pemimpin. Seperti yang kita tahu, selalu ada pencinta fanatik di kedua kubu, mereka yang siap melakukan apa saja hanya dengan disulut sebuah berita yang tidak benar. Orang-orang ini biasanya minim daya pikir yang kritis dan bergerak berdasarkan emosi. Orang-orang ini memerlukan ucapan yang menyejukan dari pemimpinnya. Sayangnya sikap ini tidak hadir.
Saya menyayangkan saat membaca pemberitaan bahwa seorang capres marah-marah pada awak media, hanya karena media itu menunjukkan sebuah hasil yang tidak dia harapkan. Sebuah itikad yang kurang baik dari seorang pemimpin. Saat itu dan saat ini saya hanya berharap kedua belah capres, apa pun hasil (baik perhitungan cepat maupun hasil versi KPU) nanti hendaknya selalu mengawal dan memberikan tindakan yang menyejukan bagi pemilihnya, bukan sebaliknya. Sikap para elite yang tidak legowo, potensial memicu ketegangan bagi para pendukung.

Saya menelpon kakak saya di Indonesia, kami mayoritas dari segi agama, namun ia tetap menyatakan kekhawatirannya akan masalah keamanan pasca pemilu ini. Beberapa teman dari agama dan suku minoritas juga mengungkapkan hal yang sama pada saya. Suka atau tidak suka, seorang capres sangat erat kaitannya dengan peristiwa 1998. Kita tidak lupa dan tidak akan pernah lupa. Sangat logis, bila beberapa orang merasa khawatir dampak dari hasil pemilu kali ini. Kekhawatiran saya tambah menguat, saat saya tidak melihat jiwa ksatria yang menentramkan darinya. Buat saya sikap menentramkan ini sangatlah krusial. Saat-saat ini. Saat euphoria politik sedang menyala sangat hebat di jiwa dan pribadi masyarakat Indonesia. Karena itulah saya memuji Fauzi Bowo, sikap pemimpin seperti ini bisa meredam amarah para pemilihnya. Dan ijinkan saya mengucapkannya sekali lagi, kalimat dan sikap yang menentramkan sangat kita butuhkan saat ini.

Merlyna Lim, seorang peneliti digital media, baru saja mengunggah hasil dari 12 lembaga perhitungan cepat dan hasilnya adalah:
7 QC yang menunjukkan kemenangan Jokowi-JK dengan perolehan suara Jokowi-JK lebih dari 50% (bisa dilihat bahwa bar biru melebihi 50%)
4 QC yang memberikan peluang 50%-50% pada Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta, dan
1 QC yang memenangkan Prabowo-Hatta (Puskaptis saja) (Sumber, Merlyna Lim,
2014, “Apa benar kita harus tunggu KPU saja? — Menyoal Real Count, Official Count dan Quick Count).
Saya tidak ingin menyatakan kemenangan secara terburu-buru, seperti kata teman saya, “tunggulah sampai peluit wasit berbunyi…” Tapi saya juga tidak menyarankan logika kita menjadi tumpul hanya karena kita tidak bisa menerima kekalahan. Seorang kawan berkata: “Masalahnya ini tidak menang telak, hanya selisih sedikit.”
Buat saya, ini bukan masalah angka, toh sedikit apa pun hasilnya, yang menang, tetap menang, yang kalah tetap kalah. Kita tidak mempertanyakan kesahihan hasil perhitungan cepat Fauzi Bowo saat itu, padahal beberapa lembaga dan media yang terlibat menyiarkan hasil saat itu sama. Jika itu tidak juga cukup meyakinkan, kita perlu mencari lembaga yang kita percaya. RRI dan TVRI sebagai lembaga pemerintah, dalam hal ini, seharusnya bisa dijadikan acuan. Untuk masalah statistiknya, saya bukan ahlinya. Sejauh kita ingin tahu siapakah pemimpin kita nanti sesuai dengan hasil penetapan KPU, kita juga mesti berlapang dada dan bersiap menerima keputusan apa pun. Jika kita tidak menemukan jiwa lapang dada dan ksatria pada pemimpin yang kita usung, mari berkepala dingin.

Ini bukan masalah Jokowi-JK atau Prabowo Subianto- Hatta Rajasa, ini masalah Bangsa Indonesia. Tentu kita tidak ingin hal yang diprediksi oleh seorang Sosiolog, Imam Prasodjo terjadi. Beliau dalam tulisannya menyatakan bahwa jika kita tidak cepat menerima apa pun hasilnya kita akan berada pada masa Darurat Politik dan konflik berkepanjangan.

Kita ingin secepatnya mempunyai para pemimpin terpilih. Agar mereka, setelah dilantik pada bulan Oktober nanti, bisa mulai bekerja untuk Indonesia, mengejar ketinggalan kita dan berjalan bahkan berlari bersama rakyat, bukan terperosok pada sebuah keadaan darurat di mana setiap orang merasa canggung untuk memulai, dan rakyat merasa tidak aman.

Untuk itulah kata legowo saya ungkapkan dan ingatkan kembali. Saya ingin sikap dan jiwa Ksatria dan berbesar hati itu ada, pada setiap calon pemimpin.

Jadi ini bukan masalah perayaan yang ingin dilakukan terlalu cepat, ini lebih dari itu. Ini masalah RAKYAT dan Bangsa Indonesia yang ingin mengejar keterpurukannya. Kita perlu ingatkan diri kita kembali: Saat memilih, kita siap menang dan siap kalah. Harap saya semoga kalimat ini bukan sebatas kata-kata.

Salam!
Madison,
Law Library, 9-Juli-2014.

#GagalGolput #AkhirnyMilihJkw


Terus terang saya sudah “coming out” sejak beberapa waktu lalu, di Path, socmed sebelah. Baru hari ini di Twitter. Path saya pilih terlebih dahulu karena jumlah teman saya di sana berbatas, dengan kata lain: pengakuan hanya untuk teman-teman dekat saya saja. Lalu twitter, dengan jumlah followers agak banyak. Bukan karena takut. Jujur saya masih ragu. Saat itu. Beberapa waktu lalu, saya masih belum punya pilihan. Makanya saya terlambat daftar pemilu. Saya gak ikutan Pemilu legistatif. Suami saya ikut. Saya udah lama gak menggunakan hak pilih. Jujur pemilu yang lalu-lalu gak bikin saya tergerak. Saya cuma mikir, “halah, paling bakal sama.” Ya, saya apatis dengan janji manis pemimpin saat mereka kampanye. Pemimpin skrg misalnya, memang ada kisah bagus yang dilakukan oleh beliau. Satu contohnya, di tahun 2004, saat awal-awal terpilih, beliau benar-benar serius dalam mengawasi penerimaan CPNS di semua departemen. Masuknya PNS berbobot tanpa sepeser uang pun terjadi, setelah sekian lama isu masuk PNS kental sekali dengan KKN dan uang sogokan. Saya dan beberapa teman termasuk yang diterima di era itu. Makanya saya bisa dengan bangga bilang: “Eit sorry, gw masuknya jujur!” Buat saya ini masalah harga diri.
Tetapi masa setelah itu? Saya kembali apatis. Saya saksikan sendiri KKN dan uang sogokan menjadi cerita yang kembali berulang. Long story short, saya jadi patah semangat lagi. Apalagi setelah melihat kelakuan beberapa elit partai yang dulunya saya kagumi. Saya POSITIF golput di Pemilu selanjutnya.

Pemilu kali ini, saya juga masih apatis di pertengahan bulan Mei. Sampai beberapa postingan teman-teman yang gencar ttg capres dan cawapres pilihan mereka. Saya masih bergeming. Gak tertarik. Saat beberapa OU scholars (almamater saya yang beberapa orang saya percaya dan hormati pemikirannya) menyatakan pilihan, saya mulai cari tahu. Banyak baca dan banyak tanya. Diikuti dengan beberapa teman alumni UH Manoa. Saya makin penasaran. Membaca lebih banyak. Cari tahu lebih banyak. Saat Anies Baswedan memilih, saya menjadi lebih tertarik. Ketertarikan itu tambah menggeliat, saat di satu hari ada seorang tokoh yang saya kagumi bertanya sama saya, “Nelly sudah menentukan pillihan?” “Belum Mbak, tapi saya tahu saya gak mungkin memilih capres X. Namun, saya belum teryakinkan dengan yang ini.” Kami pun mulai sering ngobrol. Setelah ngobrol intens dengan beliau, cari tahu, baca, ngobrol dengan teman-teman di Indonesia yang sudah merasakan betul kiprah nyata tokoh ini, saya mulai tergerak. Saat itu saya sudah menyimpan beberapa cerita baik dan benar tentang orang ini dari beberapa teman saya yang benar-benar merasakan #EfekJkw. Momen yang paling penting adalah saat saya diajak untuk bergabung dan menjadi admin di Peduli Kebenaran. Di situ saya mulai intens, mencari, bertanya tentang apa sih yang sudah dilakukan tokoh ini. Jujur, hari-hari belakangan ini adalah hari-hari di mana saya banyak sekali menangis di depan laptop saya. Gak kenal tempat dan waktu, di perpustakaan, di ruang tamu apartment, saya malah asik sesegukan membaca cerita mereka yang sudah diselamatkan melalui program-program kesehatan tokoh ini, misalnya. Cerita mereka yang membuat saya pelan-pelan membuat saya membulatkan tekad. Ibu-ibu tua, supir taksi, supir angkot, korban banjir itu mengucapkan terima kasih dari hatinya untuk pemimpin mereka yang memimpin dengan hati. Kalau semua ini hanya pencitraan dan tidak dengan hati, berapa lama sih seseorang bisa berpura-pura? Juga saya ingin kinerja pemerintahan bersih bukan hanya di Jakarta dan Solo, tetapi di Indonesia, saya sudah melihat bukti foto dan ceritanya langsung di Peduli Kebenaran. Cerita rakyat. Tak terbendung. Saya tergerak. Dan saya, insya Allah mantap. Saatnya mendukung orang baik. Saya #GagalGolput. Saya ngaku #AkhirnyaMilihJokowi.