Perempuan Pelangi by Nelly Martin, on youtube!


Perempuan Pelangi can be ordered from Amazon!


Perempuan Pelangi bisa diorder di Amazon: 

http://www.amazon.com/Perempuan-Pelangi-Indonesian-Edition-Martin/dp/602251620X

Tentang Dinda, Florence dan Path (dan bukan Facebook)


Beranjak dari kasus Dinda dan Florence, ada beberapa hal yang saya catat, baik sebagai pengguna media sosial, maupun sebagai kawan dari pengguna media sosial, lebih khususnya Path.
Mengapa saya menekankan Path, karena Path (mencoba melihat dari sisi pembuat program ini) menawarkan hal yang sedikit berbeda dari Facebook, media sosial yang sudah demikian akrab dengan kehidupan kita. Path, menawarkan keintiman, dan keprivasian, dua hal yang tidak kita dapatkan di Facebook. Buat saya, karena itulah mengapa orang terkesan lebih jujur, blak-blakan dan apa adanya di Path, dibandingkan Facebook. Mudah sekali mencari siapa biang keladi penyebar ucapan kemarahan Dinda dan Florence: sudah pasti salah satu temannya, karena Path hanya bisa diakses oleh mereka yang terdaftar sebagai teman. Dari sinilah catatan saya akan dimulai.

Untuk Teman Pengguna Path:
Kasus Dinda dan Florence itu, mudah sekali mencari siapa yang menyebarkan “kemarahan” keduanya. Kenapa? Karena di Path, hanya teman-teman yang sudah kita setujui dan kita pilih yang bisa mengakses informasi dan post kita. Tidak seperti Facebook yang lebih terbuka meskipun sudah disetting, Path benar-benar terbatas hanya untuk teman saja. Bahkan friends of friends pun tidak bisa melihat atau mengakses. Jika dilihat lebih jauh, ini tentu menyiratkan sebuah maksud, bukan? Mari kita telaah apa artinya. Arti yang paling mudah kita pahami adalah Path sudah memberikan satu layer privasi yang lebih baik dari Facebook. Dari arti ini, ada banyak hal yang mestinya kita bisa pahami dari kebijakan Path ini, di antaranya:

1. Saya tidak ingin membela Florence atau Dinda, tetapi ada baiknya kita melihat hal ini dari dua sisi.
Catatan yang ingin saya tekankan kepada pengguna Path, jika melihat post temannya yang “kurang baik” atau “kurang sopan” yang berpotensi untuk menjadi bahan kontroversi, maka ada baiknya, kita lakukan hal-hal sebagai berikut: Jika seseorang memilih Path (atau twitter dengan akun yang dikunci), bukan Facebook, itu artinya: Ia hanya ingin berbagi dengan teman-temannya saja. Terbatas. Kita ibaratkan ia sedang berkeluh kesah dengan sekumpulan temannya di sore hari, di sebuah beranda. Ia hanya ingin menumpahkan kekesalannya dengan teman, mereka yang dekat, seringkali tanpa menyensor perkataannya. Buat saya penting untuk memahami mengapa Florence dan Dinda memilih Path, bukan Facebook. Path menawarkan sebuah ruang yang menawarkan kerahasiaan dengan teman, yang pada akhirnya menawarkan kenyamanan. Kenyamananan dan privacy yang lebih terjaga, itu yang membuat orang lebih berkata apa adanya dan lebih jujur di Path, ketimbang di Facebook. Maka, saat seorang teman berkicau tidak senonoh dan tidak sopan di Path, bisakah kita mengambil jarak sebentar beberapa langkah, untuk mencoba mengerti mengapa ia melakukan itu? Tidakkah lebih baik untuk menegur secara langsung, jika memang ungkapannya tidak berkenan, dan bukan langsung repath, menyebarkan? Bukankah itu fungsinya teman, mengingatkan.

2. Taruhlah Dinda dan Florence “salah” karena menggunakan kata-kata kasar dan tidak sopan, tetapi apakah kita harus sejauh itu dalam “menghukumnya”. Buat saya kesalahan Florence dan Dinda adalah mereka tidak bijak dalam memilih channel kemarahan dan frustasi mereka, bagaimana pun media sosial adalah alat perekam yang tidak mengenal kerahasiaan, maka hal yang seharunya hanya bisa dikonsumsi teman, hanya dengan satu tombol share/repath, menjadi konsumsi siapa saja yang terkoneksi dengan internet. Tetapi, sekali lagi, mereka memilih Path, bukan Facebook. Kita perlu pahami ini sebagai upaya mereka “untuk lebih berhati-hati”, meskipun pada kenyataannya curhat dan memaki di media sosial, seprivasi apapun bentuknya, resiko untuk menyebar tetap terbuka lebar.

3. Mohon lebih berhati-hatilah dalam menyebarkan post atau pikiran teman dan kedepankan “benefit of the doubt” sebelum merepath. Jika kebetulan sebuah post dari seroang teman bernada sangat negatif, ada baiknya untuk berpikir bahwa ia mungkin sedang tidak bisa berpikir logis, tertutup amarah, maka jika kita tidak mampu menegurnya, minimal jangan menyebarkan amarahnya. Jika ingin merepath, mintalah ijin, karena hakikatnya kita sedang menyebarkan omongan/pikiran orang lain. Ingat, dia memilih Path, bukan Fb. Itu ada alasannya. Jangan seenaknya mengambil screenshoot dan merepath. Biasakan berpikir: Ada alasan mengapa dia memilih Path, dan bukan media sosial lain.

Pendek kata, anggaplah teman kita “salah” sudah memilih media sosial sebagai channel untuk menyalurkan kekesalannya, tetapi pernahkah kita berpikir, bahwa ia sedang ingin mengkomunikasikan pikirannya, rasa frustasinya kepada teman-temannya? Dan apa yang salah dengan itu? Ya, benar salahnya adalah ia memilih media sosial, tetapi tunggu dulu, ia memilih Path, bukan Fb. Ini ada alasannya. Dan seribu cara untuk memahami alasannya inilah, yang semoga bisa membuat kita berpikir seribu kali untuk tidak terus REPATH atau Share. Jika memang kata-katanya sudah sedemikian tidak sopan, tegurlah, selayaknya seorang teman.

Maka, saya pikir saya perlu ingatkan kembali tentang kalimat sambutan Path saat kita pertama kali sukses bergabung:
Welcome to Path!
This is your place- to stay close with the people you love, to capture and celebrate life. Enjoy!

— Saya garisbawahi: To stay close with people you love…….to capture and celebrate life. Enjoy!

In Path, we’re connected with people that we love, we care…. Anggap kita sudah diberikan sebuah kehormatan untuk masuk ke lingkaran pertemanan teman kita, maka berlakulah seperti layaknya seorang teman. Jika media sosial gagal dalam menjamin kerahasiaan teman kita, mari kita yang menjaganya. Menjadi teman, karena ia telah menyetujui/memilih kita untuk masuk ke dalam daftar pertemannya di Path. Maka, sudah selayaknya kita memberi pandangan dan masukan, dan bukan seenaknya merepath dan membagi tanpa ijin, jika kebetulan ia sedang khilaf atau tertutup amarah.

Catatan untuk Pengguna Path (termasuk untuk saya sendiri):
Kembali lagi dengan kalimat penyambutan dari Path, bijaklah memilih siapa yang kamu masukan sebagai temanmu: This is your place- to stay close with the people you love, to capture and celebrate life. Enjoy!
Gunakan sarana ini untuk bercengkrama dengan teman-teman baikmu, untuk menyebar hal dan berita bahagia….
Kalimat pembuka Path ini juga mengandung arti bahwa: Tidak semua permintaan pertemanan harus disetujui. Cukup Facebook yang menjadi ajang untuk berteman bahkan dengan mereka yang belum pernah kamu kenal sekalipun, sesuai dengan semboyannya: Stay connected. Tidak ada batasan di sana. Dari dua kalimat yang dipilih oleh dua media sosial ini, kira-kira arti yang tersirat adalah: Di Facebook, terkoneksilah dengan teman, pacar, mantan pacar, teman lama, teman baru, teman yang tidak kamu pernah temui, tidak pernah kamu kenal, tapi TIDAK dengan Path. Memilih dengan bijak, orang-orang yang ingin kamu bagi beberapa kisah hidupmu. Ingat, it’s for the people that we love. Seperti kita bijak dalam memilih siapa saja yang ingin kita bagi rahasia hidup kita, mari kedepankan azas yang sama dalam memilih siapa saja yang berhak berada di daftar pertemanan kita di Path. Tidak semua orang harus menjadi teman di Path. Tidak semua orang. Belajarlah untuk mengerti makna yang tersirat, bukan hanya yang tersurat. Proses menjaga privasi dimulai dari memilih siapa saja yang berhak berada di daftar pertemanan kita. Itu penting. Minimal bukan mereka yang berkedok teman tetapi sebenarnya musuh (frenemies), atau mereka yang lebih suka melihat kejatuhan kita dibandingkan kebahagiaan kita. Jika sudah terlanjur, mari manfaatkan fitur “inner circe friends” di mana kita bisa memilih siapa mereka yang benar-benar kita percaya, dalam menjaga beberapa rahasia keseharian kita. Ini juga berlaku untuk tidak menambahkan siapa saja ke dalam daftar pertemanan kita di PATH. Mari selektif. Demi kepentingan kita juga. Tidak usah berlomba angka paling banyak teman, jika akhirnya mereka tidak sesuai dengan yang dipesankan oleh Path “to stay close with people that we love.”

Jika ingin berkeluh kesah, ingat lagi siapa yang ada di daftar temanmu, karena bisa jadi merekalah yang akan menjerumuskanmu. Kasus Dinda dan Florence mestinya sudah memberikan pelajaran yang amat berharga, bahwa: Sosial Mediamu, Harimaumu.

Di atas semuanya, saya ingin ingatkan kembali bahwa sosial media, seprivasi apapun sang progammer menawarkan produknya, ia bukanlah diarimu yang mampu menjaga kerahasiaan bahkan seburuk apapun kata-kata yang kamu gunakan. Media sosial, sedekat apapun teman-teman yang ada di daftarmu, ia bukan Tuhanmu tempatmu mengadu dan berkeluh kesah, yang mudah memaafkan. Bukan. Media Sosial, bahkan yang sudah menjanjikan privasimu sekalipun adalah alat perekam semua jejakmu, bahkan saat engkau menghapusnya, ia terus akan mencatat semua jejakmu. Berhati-hatilah akan dua mata tajamnya. Ia bisa menjadi kawan, dan musuhmu.