(Kenangan Eropa) Summer Break at Europe


Nederland, begitu orang Belanda menyebutnya, adalah negara yang tidak terlalu besar- hanya 2 kali lipat negara bagian New Jersey. Lima kota terbesarnya adalah Amsterdam (official-ibu kota), The Hague (Den Haag) (administrative capital-ibu kota Administratif), Rotterdam, Utrecht, dan Eindhoven. Semua kota tersebut memiliki bangunan-bangunan khas yang sudah tua, kecuali Eindhoven yang merupakan kota baru yang dibangun kembali setelah dihancurkan oleh Jerman saat Perang Dunia II.

Hampir semua kota memiliki ciri yang senada yakni, stasiun bis dan kereta api dibangun berdekatan dan tidak jauh, pasti ada Centrum dan gereja. The Centrum, sesuai namanya, terletak di tengah-tengah kota di mana masyarakat dapat menikmati kebersamaan dengan berbelanja, duduk santai di kedai-kedai kopi ataupun hanya berjalan-jalan. Kedai-kedai kopi, yang sangat terkesan Eropa, pasti memiliki bangku-bangku di luar sehingga pengunjungnya dapat menikmati udara sambil melihat-lihat orang-orang berlalu-lalang dengan burung-burung bergerombol yang asik mencari makan ataupun berterbangan di taman-taman kota. Taman kota, dengan bangku-bangku panjangnya, juga merupakan ciri khas lain yang dimiliki oleh hampir semua kota di negeri ini.

Gereja dengan bangunan unik dan antiknya akan sangat mudah sekali ditemukan. Gereja dibangun dengan gaya bangunan yang hampir sama, yakni, tinggi, dan megah dengan jam dinding yang memiliki bunyi yang sangat khas yang dapat didengar ke seluruh kota. Sepanjang yang saya lihat hanya di Amsterdam saja yang memiliki jam matahari.

Jalur lalu lintas dan sistem transportasi, adalah hal lain yang mungkin menarik untuk ditulis. Setiap jalan lalu lintas memiliki tiga jalur. Jalur yang paling besar adalah untuk lalu-lintas mobil, sedangkan jalur lainnya adalah jalur merah untuk sepeda dan jalur kecil hitam adalah untuk pejalan kaki.
Pengendara mobil di sini sangat menghargai pejalan kaki dan pengendara sepeda. Mereka selalu berhenti setiap pengendara sepeda dan para pejalan kaki menyebrang, baik di jalan raya ataupun di gang. Tidak jauh berbeda dengan di Hawaii maupun Athens, tetapi jangan harap menemukan hal tersebut di kota-kota besar seperti DC, NYC ataupun Jakarta.

Seperti juga di Amerika Serikat, traffic light di sini pun sangat mengakomodir para pejalan kaki. Jadi, para pengendara sepeda dan pejalan kaki hanya perlu memencet tombol untuk menyebrang sampai tanda orang berjalan kaki dan sepeda berwarna hijau. Namun, orang-orang di sini, agak tidak tertib sehingga mereka seringkali menyebrang tanpa menunggu tanda hijau.
Yang paling saya nikmati dari lalu lintas di sini adalah tidak adanya kemacetan-sebenarnya tidak jauh berbeda dengan lalu-lintas di USA. Mungkin dikarenakan sistem transportasi umumnya yang menawarkan kepastian, keteraturan dan kenyamanan maka banyak orang Belanda yang memilih untuk menggunakan kereta api dan bis kota ataupun trem. Mereka biasanya mengendarai sepeda atau mobil sampai ke stasiun dan melanjutkan perjalanan ke tempat kerja atau kota tujuan lainnya dengan kereta atau bis.
Maka tidak heran, di setiap stasiun dan hampir di setiap tempat dekat stasiun ditemukan parkir sepeda yang berderet-deret.

Kereta api di Belanda hampir sama sistemnya di negara maju lainnya, yang sangat teratur dan based on the scheduled system. Setiap orang hampir tidak memerlukan bantuan orang lain untuk mengetahui informasi yang diperlukan. Mungkin sulit bagi orang Indonesia yang memiliki kultur bertanya daripada membaca. Di sini, kemampuan membaca mutlak diperlukan, karena semua informasi sudah dengan jelas tersedia. Di papan pengumuman kita akan tahu di spoor/platform mana dan jam berapa kereta akan berangkat. Semuanya bisa di cek di papan pengumuman yang terbentang lebar seperti layaknya pengumuman flight departure atau di papan pengumuman kuning yang di bagi per kota. Serba teratur. Juga, kita dapat mengecek jadwal keberangkatan/kedatangan, platform mana kita tuju/tiba dan bagaimana prosedur transit dan pergantian antar kereta melalui internet. Dari seluruh perjalanan selama ini yang telah saya lalui, tidak sekalipun kereta tiba atau datang terlambat. Seketika pikiran saya melayang mengingat New York dan Washington DC dengan subwaynya. Di kedua kota itu pun sama, semua serba user-friendly dan meminimalisasi ketergantungan terhadap orang lain dan menurut saya, sangat kecil kemungkinan korupsi bagi petugasnya. Mengapa demikian? di NL, tiket dapat dibeli di ticket box dengan memakai kartu kredit. Bagi pelanggan tidak yang memilikinya, mereka dapat membelinya dengan uang tunai di kantor pelayanan pembelian tiket yang terkomputerisasi. Hampir sama dengan subway, namun pelanggan hanya dapat membeli tiket dengan uang tunai di mesin dan jika tidak memiliki uang pas, hanya dengan memencet tombol-tombol maka akan dapat uang kembalian. Petugas yang menempati ruang informasi yang tidak terlalu besar tidak diperkenankan sama sekali untuk melayani pembelian ataupun menerima uang dari pelanggan.

Kembali ke NL, sistem yang diterapkan di bis kota dan tremnya, juga sama. Selalu tepat waktu dan memerlukan kebiasaan membaca. Di setiap stasiun dan halte pemberhentian, selalu ada papan infomasi mengenai bis kota atau trem no.berapa yang harus kita naiki sesuai tujuan kita dan di zone berapa tempat tujuan kita berada guna mengetahui berapa strip yang harus kita tandai di strippenkard kita. Misal, kalau tempat yang kita tuju berada di satu zone dari tempat asal, itu berarti kita hanya memerlukan 2 strips. Penyetripan dilakukan sendiri oleh penumpang di mesin yang berdiri tidak jauh dari pintu. Strippenkard dapat dibeli di convinient stores, toko-toko buku dan majalah dengan harga € 6.8 untuk 15 strips. Namun, tidak semua kota memiliki trem, Eindhoven misalnya, kota ini tidak memiliki trem, berbeda dengan Den Haag, Amsterdam dan Rotterdam.

Para penumpang yang memiliki kebutuhan khusus pun tidak perlu khawatir untuk berpergian karena kebanyakan angkutan umum dan gedung-gedung selalu memiliki akses bagi mereka.

Ehm, selalu saja , saya tidak pernah berhenti membayangkan, kapan negara saya tercinta akan memiliki sistem seteratur ini yang menawarkan kenyamanan bagi setiap lapisan, yang tidak melulu hanya berpihak kepada si ” tidak berkebutuhan khusus” dan si “empunya uang”.

Begitulah sekelumit pendapat saya tentang negeri ini,
negeri yang memiliki keterkaitan sejarah yang sangat erat dengan Indonesia.
Tidak heran, kemanapun saya pergi di kota ini selalu saja, bertemu dengan penduduk Indonesia baik yang masih WNI ataupun yang sudah pindah warga negara.
Yang paling berkesan bagi saya adalah bertemu dengan orang Jawa Suriname waktu naik trem di Rotterdam. Sepasang suami-istri memandang ramah kepada kami, lalu ketika kami sapa, mereka tersenyum. Benar dugaan mereka bahwa kami adalah orang Indonesia. Sayangnya, karena hambatan bahasa, obrolan kami tidak terlalu banyak. Mereka adalah orang Jawa-Suriname generasi ketiga. Ayah dari Bapak itu (sayang, saya lupa bertanya namanya) berasal dari Madura dan Ibunya berasal dari Madiun. Si Bapak berbahasa Indonesia sedikit-sedikit sedangkan sang istri hanya dapat berbahasa Jawa dan Belanda.
Jadi, bahasa yang kami gunakan bahasa Indonesia sedikit, Inggris sedikit, bahasa isyarat dan Belanda…? tidak sama sekali
dari obrolan kami, satu hal yang tidak akan saya lupa yakni pendapatnya mengenai Jakarta.
Menurutnya, Jakarta adalah kota internasional…
dalam hati, saya hanya tersenyum, sambil terus bertanya “layakkah Jakarta, dianggap sebagai kota internasional?”

Eindhoven,
Mas’ room,
at 9PM
Saturday, Dec 22, 07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s