Cinta Ibu (2)


Tulisan ini saya tulis kira-kira setahun lalu.

Hidup jauh dari orang tua, apalagi setelah Ayah saya tidak ada, membuat saya banyak belajar mengenai cinta seorang Ibu.

Dulu, saya selalu tidak mengerti kenapa Ibu rela menghabiskan hampir seluruh harinya dari mulai ke pasar sampai ke dapur untuk masak berjenis makanan untuk saya, Uni dan Bapak, minimal dua atau tiga macam jenis masakan (dengan porsi yang tidak banyak). Dari mulai; gulai ayam pedas buat saya dan Bapak, dan juga udang balado buat Uni.

Dulu, bukannya saya belajar untuk memahami, saya malah sering ngambeg, karena kalau sudah makan gulai ayam, saya tidak boleh makan udang….
Dulu, saya juga tidak mengerti kenapa Ibu rela lama-lama di dapur (apalagi saat saya tahu kerja di dapur tuh capek banget) untuk masak gulai ikan kesukaan Bapak, dan masakan lainnya untuk saya dan Uni, karena kita berdua tidak terlalu suka gulai ikan. Juga, selalu memberikan kepala ikan, buat Bapak, walau itu adalah juga makanan favorit Ibu.

Saya juga tidak mengerti kenapa Ibu selalu rela kecapean dan tidak beristirahat, sehabis masak, karena masih ada segunung kerjaan lainnya yang harus Ibu lakukan; membantu Bapak di warung, jaga warung kalau Bapak mengajar, membuat es untuk dijual….

Sekarang, setelah hidup jauh dari Ibu dan menikah, saya jadi sering merefleksikan yang Ibu lakukan. Saya jadi tahu, kenapa Ibu rela tidak makan kepala ikan yang merupakan makanan kesukaannya, atau memasak masakan yang tidak terlalu pedas buat meng-akomodir Kakak ipar saya yang tidak bisa makan pedas, padahal makanan pedas adalah menu wajib setiap harinya buat kami. Hasilnya, Ibu rela setiap masak, dibagi dua, yang buat saya dan keluarga dibuat pedas dan satunya dimasak sedang.
Saya juga jadi lebih paham, kenapa Ibu rela hampir tidak pernah makan paha dan dada ayam, karena saya adalah penggemar dada dan menantunya penyuka paha ayam.
Saya juga belajar memahami kenapa Ibu rela, masak ayam hampir setiap hari, yang merupakan makanan kesukaan saya.

Ah Ibu, ternyata dari semuanya, saya belajar memahami bahwa Ibu ingin menyampaikan rasanya, melalui kalimat yang tidak pernah terucap: Inilah cinta, Anakku…..
Mungkin kalimat itu yang ingin Ibu selalu sampaikan lewat perbuatannya.

Terima kasih ya, Ibu…
Ibu memang tidak pandai berkata-kata,
Beliau bukan orang berpendidikan tinggi,
tetapi perbuatannya memang mengajarkan cinta….

Ditulis ulang
di E, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s