Cinta Ibu


Sat at 7:14pm
Hampir di setiap malam, di masa yang lalu,
aku selalu mendapati ibuku berdoa di tengah keheningan,
hampir setiap malam
kadang aku mendengar rintihannya,
dia memanjatkan doa,
bukan untuk dirinya,
tapi untuk aku dan kakakku.
doanya satu,
kami menjadi anak yang tumbuh sehat.
Beban ibuku pasti berat,
aku memang terlahir normal,
tapi ada kelainan di tubuhku,
Ibu bilang, kalau saja Ibu bisa pasti ia pindahkan penyakit itu untuknya.
Begitu ujar Ibuku,
jika dilihatnya aku menangis meratapi nasib.
Ibu bilang, hampir setiap desahan nafasnya adalah bulir kekhawatiran akan masa depanku kelak.
Harap Ibu hanya satu: aku tumbuh selayaknya anak yang lain.
Tumbuh menjadi diriku,
tanpa harus dipandang sebelah mata.
Doa Ibu yang setiap malam itu,
ingin agar aku mampu tertawa juga bersama temanku,
seadanya aku, tanpa rasa sungkan,
karena aku sedikit berbeda dari mereka.
Kepedihan Ibu yang mendalam adalah apabila sorot mata orang lain, menatap jijik kepadaku.
Ah, kalau saja Ibu bisa memesan apa yang Allah ciptakan, pasti Ibu akan meminta aku dalam keadaan yang paling sempurna, itu pikir Ibu berkali-kali.
Tapi terus-menerus Ibu tanamkan percaya diriku,
Ibu bilang aku harus mampu menatap dunia, dengan tegar,
tidak meninggikan dagu,
sekedar bersejajaran dengan dunia.
Ibu bilang, ibu hanya ingin melihat senyumku.
Itu saja.
Itulah cinta Ibu yang paling kurasa.
Tanpa pamrih,
dan tanpa batas.

E!
Juli 18
untuk Ibuku,
dan sahabatku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s