Desa Zaanseschaan: Cagar budaya Belanda dan (dulunya) desa seribu kincir angin


Kemarin, 12 juli 2009, saya dan suami berkesempatan mengunjungi Desa Zaanseschaan, salah satu desa cagar budaya Belanda. Desa ini adalah salah satu tempat tujuan wisata, tidak heran banyak sekali turis manca negara datang ke desa ini, yang memakan waktu kira-kira 20 menit dari Amsterdam, dengan kereta.

Perjalanan
Untuk menuju desa ini, kami harus menempuh perjalanan dari Eindhoven ke Amsterdam. Perjalanan kemarin agak memakan waktu lama karena jalur kereta api Hertogenbosh-Utrecht ditutup dari jam 1 pagi-7 malam, alhasil kami harus mencari alternatif lain. Maka kami memutuskan naik kereta pagi, jam 7 pagi, menuju Den Haag, lalu meneruskan ke Amsterdam. Sampai di Amsterdam jam 10.01 dan Amsterdam bertingkah seperti biasa: penuh sesak dengan turis-turis.
Sambil menunggu kawan-kawan dari Groningen, kami baru berangkat menuju Zaanseschaan jam 11.10, menggunakan kereta api Sprinter yang tersedia setiap 30 menit dari Amsterdam. Di stasiun keempat, kami akhirnya turun.

Desa Zaanseschaan
Setelah turun dari kereta, kami pun menuju ke desa tua tersebut. Sebelum menuju ke cagar budaya, kami terlebih dahulu mengambil brosur yang tersedia di kotak besar di pinggir jalan.
Desa ini terbagi dua, dengan dipisahkan sungai di tengahnya. Karena jembatan masih dibangun kami harus menggunakan kapal ferry yang beroperasi setiap 10 menit sekali. Ferry ini bisa mengangkut sampai 100 orang dan gratis.
Setibanya di desa tersebut, kami langsung disuguhi pemandangan rumah-rumah asli Belanda yang unik dan asri, dengan berbagai macam bunga dan tentu saja, sungai!🙂. Sebagian dari rumah ini ternyata masih berpenghuni, wah tidak terbayang hidup di dalam daerah wisata. Hampir setiap rumah memiliki perahu kecil, dan jembatan. Rumah yang berpenghuni diberi label: Prive!.
Di sebelah kanan, ada Museum yang merupakan Albert Heijn pertama. Museum ini menceritakan bagaimana sejarah berdirinya yang dimulai dengan menjual kopi, dan kopi Sumatra adalah salah satunya🙂. Tentu saja! Sekedar informasi, Albert Heijn atau biasa disingkat AH adalah toko swalayan yang tersebar hampir di seluruh wilayah Belanda.
Setelah melewati restoran pannekuk, kami pun memulai pertualangan kami.
Dimulai dengan berfoto di depan kincir angin (Windmollen), yang kurang lebih ada 8 saat ini. Berdasarkan informasi dari website dan brosur, dahulunya terdapat setidaknya 1000 kincir angin di desa ini, tetapi karena disambar petir, maka hanya tersisa setidaknya 8 saja, itupun satu diantaranya sudah hilang kincirnya, karena disambar petir.
Kincir angin tersebut semuanya bernama: yang pertama, “De Huisman” atau mostermolen atau mustard mill”, yang kedua adalah “De gekroonde Poelenburg” atau the saw mill, yang ketiga adalah “De Kat” atau the Paint Mill, lalu yang keempat adalah “De Zoeker” atau the Oil Mill, yang kelima adalah “Het Jonge Schaap” atau the saw mill, yang keenam adalah “De Bonte Hen” yang juga adalah Oil Mil, yang ketujuh adalah “De Hadel” atau the Water Mill, kincir dari kincir angin inilah yang hilang, dan yang kedelapan adalah “De Windhond” atau the grinding and whetstone mill. Semua kincir angin bisa dinikmati sambil berjalan kaki atau dengan wisata air yang tersedia setiap 1 jam sekali dengan hanya membayar sebanyak 6 euro untuk dewasa, dan 3 euro untuk anak-anak.
Selain menikmati kincir angin, kami juga bisa melihat bagaimana proses pembuatan keju dan juga menikmati berbagai macam keju di Christina Hoever. Di sini, tidak hanya bisa melihat keju-keju tua yang umurnya sudah puluhan tahun, tapi juga bisa membeli berbagai cendera mata berhubungan dengan keju atau khas Belanda, tetapi juga bisa menikmati es krim. Yang unik dari es krim ini adalah selain rasanya yang sangat susu dengan berbagai pilihan rasa, juga disajikan di cone kecil tapi porsinya banyak sekali. Jika tidak sigap memakannya, maka es akan mencair dengan cepat. Yang menyajikan dan menjualnya memakai pakaian khas Belanda.
Puas dengan melihat proses pembuatan keju, kami pun menyempatkan diri untuk berfoto di miniatur rumah pembuatan susu atau cheesefarm. Di miniatur ini tersedia tempat susu, keju-keju balok, sumur, dan kincir angin, jembatan mini sehingga para pengunjung bisa merasakan bagaimana hidup di pabrik pembuatan susu.
Lalu kami pun menuju ke museum tempat pembuatan klompen. Semua jenis klompen dari mulai yang tertua, yang dipakai sehari-hari, klompen pernikahan sampai klompen yang bermodel unik pun dapat dinikmati di museum ini. Di luar museum, saya dan suami pun tak lupa berfoto dengan memakai klompen raksasa. Selain itu terdapat juga klompen raksasa di mana kita bisa masuk ke dalamnya, seperti yang terdapat di Amsterdam.
Tidak puas dengan itu, kami pun sempat menikmati berbagai macam permainan khas Belanda.
Sungguh luar biasa dalam satu hari kami benar-benar berpetualang di desa asli Belanda.
Selain yang sudah saya sebutkan, desa ini juga memiliki beberapa museum seperti: Zaans Museum, Bakery Museum, Uurwermuseum (atau museum jam), museum topi, dan masih banyak lagi.
Puas menikmatinya, kami menyempatkan diri berjalan-jalan di samping ladang yang dipenuhi sapi dan biri-biri. Sungguh sebuah pengalaman unik yang tak terlupakan.
Wisata unik itupun kami tutup dengan wisata air yang merupakan penutup yang sempurna.
Puas rasanya bisa menikmati indahnya dan asrinya hidup di desa Belanda, dalam sehari.

Perjalanan kami hari itu ditutup dengan melancong ke Amsterdam. Ini kali keempat kami mampir kesini. Amsterdam benar-benar disesaki dengan turis. Di depan museum Madam Tussaud dan Tugu Amsterdaam banyak sekali pengunjung, yang seingat saya setidaknya tiga kali lebih banyak dari Summer tahun lalu.
Dengan menggunakan trem, kami pun menuju ke Museumplein, di mana Museum Van Gogh terdapat. Sungguh saya takjub, karena sepertinya berbeda sekali dengan setahun lalu. Di depan tulisan “I amsterdam” yang simbolik itu, terdapat kolam lumayan besar. Para pengunjung dimanja juga dengan keberadaan lapangan luas yang bisa dipakai untuk berjemur sambil disuguhi pemandangan “Concert Gebouw”, sebuah bangunan tua khas Belanda nan megah.

Lengkaplah pertualangan saya dan Mas di hari itu.
Puas dan senang, meskipun pegal. Karena kereta Amsterdam-Eindhoven masih tidak beroperasi karena jalur Utrecht-Hertogenbosch masih ditutup, sehingga kami harus beberapa kali ganti kereta, dari A’dam ke Leiden, lalu ke Den Haag sebelum akhirnya ke Eindhoven. (Kalau ke Leiden sih, Mas aja yang pengen jalan-jalan sebentar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s