Kendala Bahasa? Duh, susah


Sampai kunjungan saya yang ketiga kali ke negeri kincir angin ini, bahasa belum menjadi kendala. Setidaknya di sektor umum, orang Belanda cukup fasih bergaul dalam dua bahasa. Di kereta, saat berbelanja mereka dengan tanggap beralih ke bahasa Inggris jika memang diperlukan! Jadinya? saya merasa nyaman meskipun tidak berkemampuan berbahasa Belanda sama sekali!
Tetapi pengalaman Kamis lalu sepertinya mengajarkan hal lain. Dari Shicphol, Amsterdam, kami hendak menuju ke Eindhoven. Mas sudah siap dengan jadwal yang tersimpan rapi di telponnya. Berdasarkan pengalaman, hal ini tidak ada masalah. Asal punya jadwal, apapun bahasanya tidak akan menjadi penghalang, batin saya.

Ada dua jadwal kereta ke Eindhoven:
Yang pertama, kereta langsung ke Eindhoven, tetapi harus ditunggu satu jam lagi.
Yang kedua, harus ganti kereta di Utrecht. Dengan pertimbangan waktu, maka kami memutuskan untuk ke Utrecht dulu.

Perjalanan cukup nyaman meski agak kerepotan dengan dua koper besar saya, dan dua tas jinjing dan punggung. Kalau saja tidak harus menunggu satu jam, saya pasti lebih memilih kereta yang langsung! Terbayang repotnya memindahkan koper-koper besar ini. Tapi rasa lelah setelah 13 jam di perjalanan (8 jam terbang plus 5 jam di bandara), membuat saya menyetujui ajakan Mas.
Setelah semua kerepotan memindahkan koper-koper di Utrecht, kami bisa duduk dengan nyaman. Tiba di stasiun Hertogenbosch, sang masinis mengumumkan sesuatu, dalam bahasa Belanda tentunya. Agak curiga sih karena si masinis menyebut-nyebut Eindhoven dan Amsterdam.

Tapi dasar saya yang berpikiran baik (hehehehe), saya pikir itu artinya: “Terima kasih penumpang Eindhoven yang sudah naik kereta dari Amsterdam!” hehehhe.
Berbekal kenekatan, saya berani-beraninya menerjemahkannya secara bebas sekali!
Tidak lama setelah itu, para penumpang banyak sekali yang turun. Saya pikir banyak sekali orang yang mau ke Hertogenbosch, meskipun tujuan akhir keretanya adalah Maastricht/Heerleen yang kira-kira masih harus menempuh jarak 1 jam lagi.
Mas dan saya tersenyum-senyum senang. Mengapa? karena kereta kosong!
Yang artinya? mudah bagi kami untuk turun di stasiun nanti dengan dua koper besar ini!
Jadi, saat semua penumpang berondong-bondong turun, saya dan Mas malah siap-siap berleha-leha di kereta kosong ini..;-). Tapi tak lama kemudian, seorang remaja Belanda datang menghampiri kami. Saya ingat dia termasuk penumpang yang sudah turun sebelumnya.
” I’m sorry this train is canceled. It’s not going to Eindhoven, and they’ll be back to Amsterdam. There was someone jumping off from the train”
Ternyata oh ternyata, jadi itu toh artinya!
Pantas saja, semua orang turun dan kereta kosong!

Duh, kalau gak karena kebaikan Si Mbak Londo itu, kami pasti sudah kembali ke Amsterdam. ☺
Belum selesai sampai di situ pengalaman kami di hari itu! Setelah turun di stasiun Hertongebosch, kami harus menunggu setidaknya 30 menit kereta ke Eindhoven. Itu informasi dari si Mbak Londo. Sedang asiknya melihat jadwal untuk nomor peron, mata saya melihat Eindhoven di papan pengumuman kereta yang akan berangkat. Dengan sigap saya beritahu Mas, lalu kami pun menuju ke stop train. Ehm, tak apalah naik stop train, walaupun artinya harus berhenti di setiap stasiun kecil. Dibantu dengan Mbak Londo lain yang sedang berdiri di depan pintu kereta karena masih mengobrol dengan pacarnya, saya dan Mas pun berhasil menaikkan koper-koper kami. Dengan PDnya, kami duduk di dekat pintu masuk dengan sebelumnya menaruh koper-koper di seberang kami. Pasangan itu tidak usai-usainya melihat kami sambil tersenyum-senyum. Agak risih sebenarnya, tapi karena gak ngerti, jadi saya cuek aja. Kereta lumayan penuh karena banyak orang yang pindah kereta seperti saya. Sang kondektur datang, tapi tidak memeriksa tiket. Namun dia berbicara panjang lebar, lagi-lagi hanya dalam bahasa Belanda. Saya pikir dia akan terjemahkan ke bahasa Inggris juga, tetapi ternyata tidak.

Kali ini saya tidak berani berandai-andai, kapok! Malahan Mas, yang mikir sang kondektur minta maaf karena keretanya terlalu penuh. Lagi-lagi, berbekal kenekatan🙂

Di stasiun Best, orang yang duduk di depan kami, terburu-buru pindah ke gerbong dalam. Saya dan Mas masih dengan santai duduk, sampai seorang kakek dan nenek yang membawa sepedanya, menghampiri kami “Bicycle, bicycle. This is for bicycle!” sambil menunjuk-nunjuk ke belakang kami. Kurang paham, kami segera bangkit. Yah hitung-hitung memberi duduk untuk orang tua. Begitu pikir saya. Kami pun beringsut ke seberang tempat duduk dan berdiri. Saat sedang berdiri, mata saya tertuju pada gambar di atas tempat duduk kami tadi. Ternyata: tempat duduk itu ditujukan buat penumpang berkebutuhan khusus dan pengendara sepeda. Oh pantas saja!

Lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum. Senyum si Mbak Londo2, omongan panjang sang kondektur dan tingkah polah sang kakek dan nenek akhirnya saya pahami!
Lengkap sudah hari itu. Saya yang jauh-jauh mempelajari ilmu bahasa, harus dipermalukan oleh bahasa🙂

Summer,
Eindhoven, 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s