Hasil observasiku atas yang sering terjadi


Hati wanita 1.

Aku sudah tua katanya,
sudah terlalu lama menikah tetapi belum juga dikarunai anak.
Ah, betapa pertanyaan-pertanyaan itu selalu saja berhasil menyudutkanku.
Aku harus apa dan bagaimana, saat pertanyaan lagi-lagi ditujukan kepadaku.
Mereka toh tidak perlu tidak tahu apa dan bagaimana riwayat kesehatanku. Jadi, sekedar membalas dengan senyuman sepertinya hal yang paling bisa kulakukan, sambil berharap mereka sedikit saja punya toleransi untuk menghentikan tanya-tanya itu. Ah, terlalu kejamkah jika kuanggap mereka teroris? karena pertanyaan mereka selalu saja menerorku, tidak hanya di jalan, tetapi juga di dunia maya. Sekedar bercanda, itu kata mereka. Tetapi seringkali canda mereka memerahkan kupingku. “Aku ajari berbagai gaya ya, nanti’ atau ” Pasti suamimu kurang jantan itu, sudah sama aku saja”. Dan mereka tertawa, tawa yang terdengar sangat jauh dari merdu di telingaku.

Hati wanita 2.
Karirku sudah cukup mapan dan umurku sudah beranjak merambat ke angka kepala tiga. Tetapi sepertinya Tuhan belum juga mengirimkan seorang lelaki sang pemilik tulang rusukku. Entah berada di belahan dunia mana ia kini, aku tidak pernah tahu, pun tidak pernah berhenti berusaha agar bertemu dengannya. Ada kalanya, asa berada diujung cemas yang memaksaku untuk berhenti berharap, tetapi tatapan mata Ayah dan doa Ibuku seperti menjadi cambuk agar aku terus berupaya dan tidak berhenti berusaha.
Namun, pertanyan keseharian itu selalu saja muncul mengganguku. Aku hormati dan menghargai itu sebagai bentuk sayang kalian ataupun sekedar basa-basi, tetapi sungguh aku tidak perlu canda kalian yang sering kali dianggap lucu, tetapi menyentuh sisi sensitifitasku.
Temanku bilang anggap saja itu sebagai bentuk perhatian dan sebuah kebiasaan dari tempatku berasal, dan jangan terlalu diambil pusing.
Tetapi telinga dan hatiku rasa-rasanya juga harus merasakan keadilan, untuk sekali saja tidak mendengar pertanyaan, yang itu-itu saja.

*hasil observasi dari lingkungan sekitar dan saya belajar bahwa apa yang saya lihat tidak selalu harus saya tanyakan, meskipun atas nama “basa-basi” dan menjalani apa yang sudah ada di masyarakat*

Sungguh, tulisan ini bukan berdasarkan sakit hati atau apapun itu,
tulisan ini hanya sebagai perenungan,
dan mungkin pengingat bahwa tidak semua pasangan/orang memiliki keberuntungan yang sama.
Mereka yang belum diberi anugrah, insya Allah, tidak pernah merasa iri, malahan berbahagia,
maka untuk yang sudah diberi pasangan ataupun keturunan, tolonglah untuk lebih bersimpati, dengan melulu tidak menanyakan hal yang sama,
karena kalian tidak pernah tahu apa yang sedang dialami oleh orang atau pasangan tersebut.
Just remember that: it’s none of your business!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s