Depok- setelah hampir tiga tahun


by Nelly Martin on Sunday, 04 October 2009 at 13:19

Depok, salah satu kota pinggiran tempat saya besar dan tumbuh, sama sekali sudah berubah. Saya masih ingat waktu saya masih kecil dulu, mau pergi ke Jakarta, saya dan keluarga harus melewati hutan-hutan kota yang menjadi penyejuk kota kecil ini. Hijau dan rindang.
Sampai saya SMP, kota ini masih sejuk dan airnya masih bersih. Di saat SMA, kota ini mulai berubah, pembangunan, itu istilah mereka. Ternyata pembangunan ini memakan banyak sekali korban, setidaknya korban alam dan lingkungan.
Saya, sebagai anak SMA saat itu, senang bukan kepalang saat bermunculan beberapa pusat perbelanjaan. Tetapi hati saya sedikit menangis saat melihat penjual tanaman cantik di depan kantor walikota harus tergusur beberapa tahun sesudahnya demi membari lahan pada sbuah pusat perbelanjaan besar. Ada perasaan tidak rela sebenarnya, saat melihat kota ini tiba-tiba digundul massal, dan seketika menyulapnya menjadi kumpulan toko-toko dan pusat perbelanjaan. Ada perasaan tidak rela yang menyeruak saat melihat lagi-lagi, kebun kota harus diubah menjadi beton-beton. Depok seketika menjadi panas dan tidak lagi menawarkan ke”nyamanan”nya.
Saya tiba-tiba rindu sekumpulan pepohonan hijau di jalan raya Margonda. Atau mudahnya menyebrang jalan dengan mudah.
Rupanya pembangunan kota tercinta saya ini harus mengorbankan kepentingan sebagian kelompok lainnya. Mungkin saya hanya sebagian kecil dari orang-orang yang merindukan kehangatan kota Depok yang berpihak pada lingkungan dan kenyamanan para pejalan kaki.
Macet yang bertahun-tahun lalu adalah milik Jakarta, tiba-tiba sangat diakrabi oleh kota ini. Mungkin sebagian masyarakat kota Depok sudah demikian naik taraf hidupnya sehingga mengendarai mobil adalah sebuah keharusan, untuk hal ini saya bersyukur.
Tetapi di tepi yang lain saya juga menyaksikan makin banyak juga warga yang sedemikian miskin mengais rezeki di pinggir jalan. Sebuah paradoksi yang sudah dianggap wajar, di negeri tercinta ini.
Tetapi, tetap saja hal ini membuat saya demikian kebingungan. Mungkin benar kata teman saya, saya tidak mengenal masyarakat saya sendiri. Saya, yang baru dua kali berkunjung ke Margo saat kepulangan kali ini, sudah langsung merasa tidak nyaman berada di dalamnya. Tetapi mungkin saya harus ke sini lagi, karena teman-teman biasanya berjanjian di sini. Saya sering terperangah melihat gaya konsumtif yang sepertinya sedang menjangkiti penduduk di sini. Tidak ada lagi orang yang berjalan tanpa handphone sehingga hampir semua orang sibuk dengan dunianya, dan tidak menyisakan ruang untuk bertegur sapa dengan orang disampingnya.
Sungguh sebuah budaya konsumtif yang mencengangkan buat saya. Sekali lagi, ini mungkin memang kesalahan saya yang tidak mengenal masyarakat saya sendiri.
Saya miris, saat melihat anak-anak kecil sudah sangat hapal dengan nama-nama Mall dan orang tuanya menjadikan Mall sebagai tempat hiburan. Saya tidak menyalahkan orang tua karena sarana hiburan di kota ini memang sedikit sekali. Dalam hati saya hanya berharap bahwa hutan kota itu tidak pernah dibabat habis sehingga bermain-main di taman bisa menjadi hiburan murah meriah, sehat dan menyenangkan.
Kalau saja ada sedikit saja dari lahan itu yang dijadikan taman kota,
mungkin saya dan masyarakat Depok lainnya tidak akan dijadikan sasaran empuk pemasaran produk-produk dari luar itu? Mungkin sudah saatnya dibangun sebuah sarana hiburan yang berbasis budaya masyarakat Depok, agar kita tidak lagi melulu menjadi sasaran “pihak luar” dan masyarakat tempat saya besar ini tidak lagi menghabiskan beratus-ratus ribu uangnya demi sebuah gaya hidup yang mereka anggap “keren” dan harus diikuti.
Entahlah, mungkin saya yang terlalu berlebihan sensinya🙂

One response to “Depok- setelah hampir tiga tahun

  1. Depok dulu tempat Jin buang anak sekarang mulai ngota ya Nel😦, sampai rumah si pitung yang sekarang di Margo jadi cafe ;(…
    sejak ada UI depok mulai dilirik dan menjamurlah kost2an di daerah pocin n kukusan.
    But i love Depok walaupun bukan asli orang depok walaupun baru pindah ke depok tahun 1980 karena ortu bisanya beli rumah KPR BTN di Depok Utara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s