Catatan Hati untuk Ibu


Mungkin status yang saya tulis di Facebook kemarin kurang lengkap, doa saya saat itu adalah Ibu sampai dengan selamat dan saya lupa bahwa nikmat sehat seharusnya juga tidak lupa dihaturkan.

Terluka rasanya, saat harus memilih antar mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai anak. Kemarin, sekitar pukul 11.30an saya ditelpon kakak ipar dan kakak saya bahwa ibu sudah mendarat dengan selamat tetapi ibu harus naik kursi roda dan dibawa ke rumah sakit langsung. Kakak saya bersuara parau mengabarkan bahwa Ibu saya dalam kondisi pucat dan hasil analisa dokter adalah ibu menderita maag kronis dan kelelahan luar biasa sehingga harus dirawat. HB Ibu pun sangat rendah, yaitu hanya 3, sedangkan HB manusia sehat adalah antara 12-15, sehingga Ibu harus transfusi darah sebanyak 1000 CC. Saya di kantor saat itu, dan harus ijin demi melihat Ibu. Tetapi, keesokan hari dan hari-hari seterusnya saya tidak bisa ijin lagi, karena saya saat ini sedang diamanahi sebuah tugas.

Kondisi Ibu sekarang belum membaik. Ibu pucat dan berkali-kali muntah. Dan saya hanya dapat diam melihatnya. Kalau saja punya kekuatan yang lebih besar, yang saya inginkan hanya kesehatan ibu saat ini.

Ada apa dengan Desember?

Lagi-lagi bulan Desember.
Pikiran saya mengingat kejadian 4 tahun lalu, saat saya harus menjadi seorang moderator pada sebuah acara seminar internasional dan di saat yang bersamaan ayah saya sedang meregang nyawa.
Dua hari lalu, saat membaca tulisan seseorang tentang Sri Mulyani, mentri keuangan, yang juga harus memilih antara tugas negara dan menemani Ibundanya yang (hampir) sedang menemui malaikat maut. Hati saya dapat merasakan bagaimana sakitnya. Memang tanggung jawab saya tidak sebesar Ibu Sri Mulyani, yang di saat bersamaan harus mempertaruhkan jutaan nasib rakyat Indonesia. Tetapi, mungkin rasa hati kami sama, yaitu perih dan berduka.
Saat ini pun, saya harus memilih.
Saya harus berdiri tegak dan tersenyum lebar di depan para peserta diklat pada sebuah acara kunjungan sekolah, menghadapi dan melayani tamu luar negeri dan juga murid-murid saya dan rekan saya, padahal rasa hati saya sangatlah berduka. Sepanjang perjalanan pergi ke kantor, saya menangis. Tangisan diam-diam. Sambil tidak pernah lupa, untuk selalu menghaturkan doa saya, untuk Ibu, yang saat ini sedang sakit.

Mungkin ini hikmah, mengapa saya tidak langsung lanjut sekolah ke jenjang yang lebih tinggi atau saya dengan tegar meskipun “diceramahi”, karena menolak permintaan BIG BOSS untuk tugas luar negeri selama beberapa bulan semenjak kedatangan saya. Sungguh sebuah hal di luar pikir saya bahwa saya bisa menghadapi bos saya dan menolak permintaannya untuk penugasan saya. Mungkin doa Ibu yang menguatkan saya, selain juga keberatan suami saya.
Ternyata ini adalah hikmahnya, meskipun tidak intens menemani Ibu, setidaknya saya masih bisa menatap dan memeluknya, di dekat saya.

Desemeber 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s