Pengalaman belajar dan mendengar- Sebuah perbandingan


“If you yourself are happy with the paper, that’s what matters”
Itu kalimat yang diucapkan seorang kawan yang sedang berjuang di Belanda, mengutip ucapan profesornya tentang papernya. Awalnya saya tidak terlalu percaya dan menganggap bahwa itu adalah sebuah “excuse” atas nilai yang tidak terlalu “memuaskan”, setidaknya menurut saya.
Tapi setelah beberapa kali berada di kesempatan berbicara dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di negeri kincir angin itu mengenai sistem penilaian, saya akhirnya mulai belajar untuk percaya bahwa sang dosen dan murid-murid asli Belanda tidak terlalu mengutamakan nilai. Bahkan seorang teman lain pernah memberitahu saya bahwa seorang teman Belandanya berhenti mengerjakan soal saat ia tahu bahwa setidaknya ia sudah bisa mendapat 6, ambang kelulusan. Ajaib bukan?
Tentu saja!
Belum lagi, masih dari cerita teman yang sama, beberapa teman Belandanya akan pesta minum bir setelah tahu mereka lulus, meski nilai mereka hanya 6!!

Dan itu bukan isapan jempol semata,
Saya pun membaca beberapa buku demi mencari kebenaran secara ilmiah. Dan benar saja! Salah satu buku yang saya baca, berjudul “Aspects of Dutch culture that can cause friction”, menjelaskan semuanya. Budaya Belanda memang tidak menitikberatkan pada sistem kompetisi. Bahkan seorang anak tidak pernah dipuji secara berlebihan oleh orang tuanya agar mereka tumbuh dengan bisa memotivasi diri sendiri dan tidak sombong, juga orang tua akan merasa malu apabila anaknya menjadi “seorang jenius” atau di Belanda disebut dengan “studje”, sebutan ini, menurut buku tsb, terdengar sangat buruk bagi sang orang tua. Orang tua akan lebih menghargai jika anaknya tumbuh menjadi seorang yang bisa bersosialisasi dengan baik daripada harus menjadi seorang jenius yang paling menonjol di kelas. Hah! Sungguh fenomena yang menarik! Apalagi buat saya dan mahasiswa internasional yang di sekolahnya sering kali diberi nilai berdasarkan distribusi kurva normal. Sebuah nilai hampir sempurna bahkan sempurna adalah sebuah hal yang mesti dikejar dan direalisasikan!
Hal ini membuat saya sedikit banyak membandingkan dengan kebiasaan teman-teman Amerika saya, yang belum puas kalau belum mendapat nilai A atau A+. di Belanda ini sebanding dengan 9 atau 10. Mereka akan usaha mati-matian untuk mendapatkan nilai sempurna itu, walaupun dengan harus rela begadang bermalam-malam di perpustakaan. Betul bahwa mereka akan puas dengan apa yang mereka hasilkan tapi kepuasan itu harus terejawantahkan secara nyata di atas kertas. Apalagi, ada sebuah anggapan bahwa mahasiswa graduate school atau pascasarjana harus setidaknya mendapat A, dan mendapat B adalah sebuah aib.
Namun ada kesamaan dari sikap mahasiswa di dua negara ini, setidaknya berdasarkan pandangan dan observasi saya, mereka jujur dan tidak terlalu pusing dengan nilai yang diraih teman-teman sekelasnya!
Saya ingat waktu pertama kali paper SLA (Second Language Acquistion) dibagikan hanya anak-anak internasional yang resah gelisah ingin tahu nilai yang teman-teman sekelasnya dapat, sementara anak-anak Amerika setelah melihat dan membaca komentar sang profesor langsung memasukan ke dalam folder atau tas mereka. Tidak ada yang membahas. Pikir saya waktu itu pun langsung menuju ke kelas undergraduate saya di salah satu universitas di Jakarta, yang apabila waktu membagikan paper tiba, maka bisik-bisik ingin tahu siapa yang mendapat tertinggi dan terendah pun akan terdengar dengan jelas.
Tentu saja saya harus beradaptasi dengan suasana seperti ini dan alhamdulillah tidak terlalu sulit karena saya juga tidak terlalu perduli dengan nilai yang diraih oleh teman saya. Saya sudah keburu sibuk dengan nilai saya sendiri, hehehe, maklum sebagai penerima beasiswa dari kampus saya harus senantiasa mempertahankan standar nilai tertentu kalau tidak mau diputus begitu saja. Perasaan takut tidak lulus, sedih kalau tidak lulus, kecewa juga kalau tidak mendapat nilai yang baik di awal-awal kuliah lebih banyak menyerang saya sehingga lupa membandingkan nilai saya dengan teman lainnya. Namun, beberapa teman internasional lainnya sepertinya masih sering penasaran dengan perolehan nilai kawan lainnya.
Sedangkan mahasiswa Amerika lebih senang menjaga nilai sebagai urusan pribadinya. Jika ada hal yang ingin mereka tanyakan, maka mereka tidak akan sungkan bertanya langsung dengan sang profesor. Tidak perlu bersama-sama dengan teman lainnya. Buat mereka jelas, setiap orang punya masalah dan pencapaian dengan dirinya masing-masing.
Sungguh beda ya dengan mental kebersamaan teman-teman di Indonesia?
Setidaknya lagi-lagi berdasarkan pengalaman saya, yang kalau ada apa-apa maunya maju bareng-bareng demi menghadap sang dosen!🙂.
Mengenai kejujuran, mereka juga patut diacungi jempol!.
Saat ujian akhir, sang dosen tidak pernah khawatir saat harus meninggalkan ruangan. Saya berkali-berkali mengamati teman-teman atau murid-murid saya sepertinya tidak pernah terpengaruh ada atau tidak ada dosen saat mereka ujian. Konsekuensi dan hukuman yang akan terima memang fatal sekali apabila ketahuan mencontek atau menyalin. Beberapa kali saya tanya teman saya bahwa mereka sama sekali tidak punya budaya mencontek. Saya kagum. Setidaknya itu pengakuan mereka yang benar saya lihat secara nyata di kelas.
Cerita lain lagi adalah saat saya mengambil sebuah kelas bahasa asing di mana murid-muridnya adalah kebanyakan mahasiswa undergraduate baik dari Amerika maupun internasonal. Setiap minggu kami harus ujian kecil sebanyak dua kali dan sang dosen tidak pernah terlalu ketat dalam menjaga ujian. Dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh seorang anak Asia (tidak perlu terlalu spesifik ya Asia mana :)) untuk membuka “catatan kecilnya”. Sekali dua kali, saya mendiamkan aksinya, karena itu terjadi di depan mata saya. Sebagai murid dan guru saya geram betul. Di akhir kelas, saya bicara baik-baik dengan dia, saya bilang saya tidak merasa nyaman dengan kelakuannya dan saya mungkin tidak akan tinggal diam kalau hal itu terjadi lagi. Tetapi ternyata dia tidak mengidahkan saya, dia melakukannya lagi dan lagi, di saat midterm.
Akhirnya saya bertukar pikiran dengan sesama TA yang kebetulan adalah TA dari bahasa yang saya ambil. Keesokan harinya sang dosen berbicara dengan saya:
I’m so surprised Nelly. American students never cheat; that’s why I trust them. If I see her cheating in the next exam, I will automatically fail her”.
Bukan saya menghamba pada kebaikan-kebaikan mahasiswa Amerika, karena saya juga melihat beberapa kekurangan mereka, tetapi setidaknya kejujuran mereka ternyata lebih islami daripada murid-murid Indonesia saya atau bahkan saya sendiri saat masih sekolah.
Ayo coba ingat-ingat, berapa banyak diantara kita yang akan berteriak kegirangan apabila sang guru atau dosen keluar meninggalkan ruangan ujian?🙂

Menjelang Sahur di E.
Ramadhan H7, 1430/2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s