Pertanyaan (yang harusnya) biasa


Pertanyaan: Nelly, suami di mana? Nelly, suami kapan nyusul?

Terdengar terlalu terbiasa di telinga saya. Reaksi saya pun biasanya macam-macam menanggapi pertanyaan ini. Mulai dari saya jawab sekenanya, seenaknya, atau saya diamkan semua tergantung siapa yang bertanya. Jika dia adalah seorang teman yang berbagi kisah sehari-hari maka saya jawab dengan penuh penjelasan, namun pertanyaan random yang tiba-tiba datang dari orang yang sama sekali belum pernah ngobrol, lalu nongol di chat, dan menanyakan pertanyaan ini. Ini mengusik saya. Saya teliti, pahami apa maksudnya, namun karena gagal maka biasanya saya diamkan saja, dengan harapan bahwa dia akan sadar sendiri bahwa hubungan kami tidak demikian dekat sehingga saya bisa dengan mudah mengungkapkan jawaban, apa pun itu.

Namun sayangnya, orang-orang model begini adalah orang yang pantang menyerah. Setiap online di chat, pertanyaan itu selalu tidak pernah lupa ditanyakan. Entah apa maksudnya. Dan apapun maksudnya, saya malas menanggapi.
Kalau memang ini bentuk perhatian, saya tidak memilih diperhatikan dengan pertanyaan model begini. Bukan perhatian yang diterima, tapi terlalu ingin tahu.
Saya pun sudah terbiasa sebenarnya,sejak menjalani hidup model begini dengan Lesky, kami berdua jadi seperti terlatih untuk bagaimana menghadapinya. Lesky, sahabat dan guru saya dalam menjalin sabar dan terus menerus mengingatkan agar selalu berpikiran positif atas apapun pertanyaan komentar orang. Berulang kali dia memupuk nurani saya agar lebih sabar dan tidak melayani pertanyaan tidak mutu model begini.
Tetapi, saya memang tidak sesabar dia,apalagi kalau harus berhadapan dengan tanggapan orang, yang kalau saya jawab, bahwa saat ini saya dan Lesky harus terpisah benua.
Mulai dari:
1. “Aduh saya mah gak bisa hidup jauhan dari suami, bahkan sehari aja udah kangen! (Well, tell me about this, and I don’t even know how to comment to this one, as THIS IS TOTALLY ANNOYING!
atau

“Aduh saya mah kalau harus keluar (negeri) dan sekolah lagi, keluarga harus saya gondol semua. Gak bisa kalau engga”.

Orang ini sepertinya lupa bahwa kondisi dan situasi orang itu berbeda-beda. Dan saya kehabisan nafas kalau harus memberitahu hal dasar seperti ini. Saya diamkan sambil meringis mengasihani dia dalam hati.

Kali lain, saya harus menanggapi mulut yang selalu saya anggap lelaki baik, tetapi setelah saya baca komennya:
2. “Gue itu lelaki Nel, dan tahu banget pikiran lelaki kaya apa, jadi gue rasa Lesky pasti senanglah ditinggal ama elo, bisa bebas dia”.
Sayang sekali komentar seperti ini bisa keluar dari seorang yang saya pikir kehidupan rumah tangga dan agamanya cukup baik. Saya marah, tetapi Lesky mengingatkan lagi bahwa komentar seperti ini tidak perlu energi terlalu banyak untuk ditanggapi. Biasanya jawaban Lesky simple: Dia tidak tahu kamu, juga tidak tahu saya dan bagaimana kita menjalani hidup kita berdua. Sabar saja, balasan Allah untuk yang sabar dan dzalim itu tidak pernah tertukar.

Mereka bukan lingkaran terdalam hidup saya sanggup membuat kesimpulan super luar biasa sok tahu.
Saya yakin sahabat saya tidak perlu bertanya, karena dengan senang hati saya akan menjawabnya panjang lebar.

Dan hari ini, saat saya sedang kurang fit dan pusing mengurus proses Ds2019 Lesky, yang dijanjikan hanya 5 hari tetapi sudah hampir sebulan belum juga selesai, saya hanya mau bilang: Pertanyaan Anda mestinya biasa, tetapi maaf saya sedang tidak biasa menjawabnya.

Lesky ada di mana? Dia di hati saya, masih di tempat yang sama sejak dulu sampai sekarang.
Demikian. Terima kasih. Mohon maaf apabila ada kata yang terlanjur menyakiti,
karena saya pun tersakiti dengan pertanyaan Anda, yang mestinya memang biasa.

Madison,
January 2012.

13 responses to “Pertanyaan (yang harusnya) biasa

  1. Well, urusan rumahtagga kita adalah urusan pribadi yang tidak menyangkut urusan orang lain. Jadi feel free lah kalo jawab pertanyaan model begitu. Tak ada keharusan bagi kita untuk menjelaskan dan membuat mereka mengerti keadaan rumah tangga kita.
    Situasi saya juga kurang lebih sama. Suami keluar rumah Senin pagi dan baru kembali Sabtu malam. Padahal, kerjanya ‘cuma’ di Tangerang. Lama perjalanan yang sekitar 2,5 jam sekali jalan karena macet membuatnya tak sanggup kalau bolak balik tiap hari, dan saya tidak bermasalah tanpa suami selama seminggu. Sayangnya ada saja komentar yang seperti kau tulis di atas atau “Kan dekat, ko ga pulang aja,” atau “Ga khawatir jauh-jauhan gitu,” atau “Mending pindah aja daripada suami di mana anak istri di mana.” Yang paling menyebalkan, “Suami saya juga kerjanya jauh, tapi tiap hari diusahakan pulang biar larut malam juga.” (curhat mode ON)
    Respon saya? Satu dua patah kata saja. Tak perlu lah menjelaskan bahwa saya kasihan kalau dia harus kecapean setiap hari, atau bahwa saya lebih memilih tinggal di Bogor dengan berbagai alasan yang masuk akal bagi kami berdua daripada pindah ke Tangerang atau yang lainnya.
    So, biarkan anjing menggonggong khafilah berlalu. Semoga berkah Allah selalu menyertai setiap niat baik kita.
    Have a nice weekend, Nel😀

  2. Uni, sabar…
    Dan sabar itu memang sulit. Meski saya tidak begitu dekat dengan uni Nelly, setidaknya, saya bisa belajar banyak dari uni, ya?

    Saya suka kalimat uni yang ini, “Lesky ada di mana? Dia di hati saya, masih di tempat yang sama sejak dulu sampai sekarang.”

    Sebenarnya, apa yang dibilang oleh uda Lesky, yang ini, “Dia tidak tahu kamu, juga tidak saya dan bagaimana kita menjalani hidup kita berdua. Sabar saja, balasan Allah untuk yang sabar dan dzalim itu tidak pernah tertukar.”

    Saya rasa, ini sudah membuat bahtera rumah tangga uni akan baik-baik saja. Insya Allah, ya un. Semangat dong. Uda Lesky pasti bahagia kalau melihat uni bisa tersenyum. Cinta itu di hati, un. Meski jauh, percayalah, hal paling atas dari cinta adalah kepercayaan. Tanpa ini, jalinan cinta nggak ada artinya.

    (Hoalah, kayak saya udah nikah aja, nikah aja belum pacaran pun apalagi.. Yang sabar ya, un.. Mohon maaf kalo nggak berkenan ya..)

  3. Syayid, thank you so much, Bro!
    You are just so attentive🙂
    Thanks a lot.

  4. pengalaman yang sama dulu saya alami mba, kebanyakan orang-orang kita kadang suka gak mikir untuk masuk terlalu jauh atau mungkin tepatnya terlalu mau tau privasi orang lain. Good luck mba, hug from Honolulu.

  5. Assalmualaikum,Nelly maaf ya nel kalau sy ikut baca ini, nelly yg sy kenal adalah nelly yg baik dan energik, nelly sangat tau menempatkan diri di mana aja, bahkan nelly sangat tau kapan hrs bicara banyak atau sedikit dengan saya. Nelly menurut saya, suami nelly sangat bijaksana menanggapi ini semua dan dialah imam nelly selamanya. sy yakin nelly telah menempatkan suami urutan kedua di hati nelly setelah Allah SWT. tak akan masuk syurga seorang suami kalau dia tidak memuliakan istrinya dan tak akan masuk syurga seorang istri kalau dia tidak menempatkan suaminya setelah dia menempatkan Allah di hatinya. Berjalan lah dengan tenang dan khusuk nel apapun kondisinya, jauh atau dekat itu tak masalah selama kalian berdua selalu mengingatNya. Maaf ya nel sy comment ini karena sy memiliki seorang teman satu kantor seperti nelly yg sangat sy kagumi. Wassalamualaikum.

  6. sabaaaaaaaaaaarrrrr…..neellll…gak perlu buang2 energi nanggepin pertanyaan gitu …wokeeeehhhh

  7. @Evi Sofiawati, thanks for sharing yours, Vi.
    Yeah, memang kita adalah kafilah yang harus selalu mendengarkan si anjing menggonggong🙂

  8. @Galuh,
    siaaaap🙂 Thank you, Luh.

  9. @Ibu NIngrum, haduh ibu kenapa minta maaf? Saya terima kasih ibu sudah mau baca dan terima kasih juga atas komentarnya. Terima kasih juga buat doanya ya, Bu.

    Salam,

  10. @mbak Ita, mahalo for the comment🙂 I miss the breeze of Honolulu🙂

  11. hmm…. terkadang qt hrs sdikit egois dengan tidak mendengarkan omongan orang laen krn ga semua omongan org itu pas sama kondisi qt..
    kan kebahagiaan itu harus kita sendiri yg buat… so jalanin n nikmatin aja apa yg ada di depan qt, dgn begitu insyaallah qt jd lbh pandai bersyukur..

  12. amiiiin, ni🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s