Sebuah Nilai dari Sekolah Kehidupan


Tiba-tiba teringat beberapa pengalaman saat di bandara. Kisah yang saya simpan di dalam hati, pelajaran hidup yang saya tidak dapatkan di bangku sekolah.
Mudah-mudahan bisa menjadi hikmah bagi siapa saja. Amin.
Ada banyak kisah yang saya temui dalam rangkaian jam yang saya habiskan di perjalanan menuju beberapa kota dan beberapa negara. Alhamdulillah, saya tidak pernah lalai mencatatnya, agar bisa saya pelajari kembali dalam sekolah kehidupan saya.
Pagi ini, tiba-tiba saya teringat akan satu kisah.
Kisah di bandara, di Jakarta, penerbangan domestik. Tangga di samping eskalator menuju gate sebelum pemeriksaan metal detektor. Saya sudah di tangga paling ujung saat itu, saat mata saya melirik ke seorang biarawati berambut putih dengan pakaian kesusterannya. Saya melihat beliau sejak di loket pembayaran pajak bandara. Terlihat bahwa ini pengalaman terbang pertamanya. Sayangnya petugas yang masih muda itu lupa bahwa yang dihadapinya adalah seorang tua seumuran dengan ibu atau bahkan neneknya. Alih-alih melayani dengan hati, sang nenek ini malah dibentak-bentak karena tidak tahu tentang pajak bandara yang harus dibayar di luar tiket. Lalu, saya perhatikan sampai transaksi selesai dengan menahan diri untuk tidak ikut campur, walau dalam hati geram luar biasa.
Saya masih perhatikan beliau dengan mata saya, dari jarak yang tidak terlalu jauh, juga tidak terlalu dekat. Sampai di tangga di samping eskalator.
Dari tangga terakhir, saya perhatikan beliau yang naik tangga, dan bukan memilih eskalator. Mungkin alasan yang sama dengan saya: Agar lebih sehat🙂
Sampai di lantai dua, beliau lagi-lagi terlihat agak bingung. Lalu, saya beranikan diri bertanya:
“Ibu, mau ke mana? Bisa saya liat tiketnya?” Demikian saya, untuk memastikan gate berapa yang harus ia tuju.
Matanya bersinar ramah. Tidak ada prasangka akan sapaan orang asing yang memang, Insya Allah, bermaksud menolongnya.
“Ini, Dek, saya mau ke sini” Sambil menyerahkan tiketnya ke saya. Lalu, saya baca ternyata jarak gate beliau agak jauh dengan gate yang saya tuju, tetapi saya sedang tidak berburu waktu.
“Baik, Bu. Nanti kita sama-sama ke gate itu ya. Sekarang kita ke sana dulu, periksa tas lagi” Sambil saya menunjuk arah petugas pemeriksa dengan metal detektor.
Setelah selesai semua prosesnya, kami dihadang dengan lagi-lagi pungutan yang saya lupa apa itu.
Si penjual, seorang wanita cantik, tidak menawarkan saya, tetapi langsung ke ibu biarawati di samping saya.
Lalu saya tanya: “Ini wajib?”. Wanita muda itu dengan raut muka berubah, menjawab: “Tidak, tapi ini bisa memberikan….”
Lalu, saya potong, “Kalau begitu, tidak usah. Terima kasih.” Saya pegang tangan si ibu meninggalkan si penjual cantik yang kecewa.

Di perjalanan menuju gate, sang ibu bercerita tentang pekerjaannya sebagai biarawati di sebuah desa di jawa, dan ini pengalaman pertamanya pergi ke luar Jawa menggunakan pesawat. Beliau agak nervous, tetapi dengan pasti beliau bilang:
“tetapi saya tidak khawatir Dek, Tuhan bersama saya.”
Lalu dia pun memegang tangan saya lebih erat. Kami pun bertukar cerita lagi.

Sesampai di gate, saya antar dia sampai di tempat duduk.
Saya berpamitan. Saat saya hendak pergi, beliau memegang bahu saya.
“Biarkan saya berdoa sebentar untuk Adek, ya.”
Dengan matanya, ia meminta saya berdiri di sampingnya. Lalu, matanya menutup sambil kedua tangannya terlipat di dadanya.
Mungkin sekitar 10 menit. Saya tunggu. Beberapa pasang mata memperhatikan kami. Sebuah pemandangan janggal mungkin buat mereka. Dua orang berbeda keyakinan terlibat di sebuah komunikasi “tidak biasa”.
Sama-sama memakai penutup kepala, namun yang satu adalah seorang pelajar muslim, yang lainnya, seorang suster khatolik.
Saya tidak jengah, malah saya bahagia. Saya yakin rasa kemanusiaan dan kebaikan itu hadir lintas kepercayaan. Dengan interaksi semacam ini, saya makin mencintai agama saya yang memang mengajarkan kebaikan bagi seluruh umat dan makin menghargai agama lain, yang juga mengajarkan nilai kebaikan yang sama.
Lalu, beliau membuka matanya: “Dek, Tuhan pasti jaga Adek, ke manapun langkah Adek. Tuhan ada beserta orang baik. Terima kasih sudah antarkan saya ke sini, ya. Tuhan berkati.” Begitu ia tutup percakapan kami hari itu.

Pertemuan singkat kami pun ditutup dengan pelukan hangat bak kedua orang teman lama.
Doa yang sama pun saya panjatkan untuk ibu itu, agar perjalananannya lancar dan dijaga Allah. Amin.

Saat hati mampu membuka, nilai-nilai kebaikan adalah pelajaran hidup yang mestinya bisa kita dapat di mana saja, di sekolah kehidupan ini.


Saxony, Madison, WI
Hari pertama di bulan kedua, di tahun 2012.

6 responses to “Sebuah Nilai dari Sekolah Kehidupan

  1. Suka ceritanya! Kedua tokoh di dalam cerita ini tumbuh dan belajar tentang kehidupan di komunitas Indonesia. Sebuah komunitas yang saling menhargai seperti cita2 para pendahulu kita. Nilai2 seperti ini lah yang kita pelajari di sekolah sejak dulu, yang sayangnya dalam pelaksanaannya sangat sulit seperti yang sering kita pelajari di surat kabar cetak dan eletronik yang lalu lalang. Sungguh tulisan yang sangat menyentuh hati dari penulis yang bijaksana dalam setiap langkah hidupnya. ——- Tetapi kenapa kalau sms-an kok bahasanya jadi berbeda sekali, seolah sang penulis memiliki kepribadian ganda. Satu yang santun dan bijaksana, sementara yang satu gaul, fun, dan selalu riang gembira lucu tiada henti …. hehehehe …. piss Nel!

  2. Aku memang punya account di wordpress tapi profil ku nggak lengkap, Silahkan bertanya2 siapa gerangan diriku, atau sudah tahu ya … hehehe. Aku memang baru mau transfer dari drupal ke wordpress untuk websiteku, tapi aku nggak tahu kalau account wordpress ini jadi penting. Makanya aku belum sempat melengkapi profilku ….. halo Nelly ini aku temen kamu ….🙂

    • hahahhaha aku sudah taauuuuu, awalnya aku bingung: Dityat🙂 tapi gak lama setelah itu, aku pun tahuuu siapa gerangan dirimu hhehehe, makasih buat komennya ya, Mas.
      #Saya yang sedang merenung mencari jati diri, halah hehehehe

  3. Love to read this note. For me, “the right to be respected” is a human right. Each and every one of us has a right to receive an equal treatment, simply because we are human.

    • Thank you for being one of the mentors🙂
      Bapak, Ibu, para guru, kamu dan semua yang ada di sekitar adalah guru besar kehidupan saya🙂

  4. bundanya naufal

    Nelce, you’re just soooo noble. That’s what I call living in harmony. We really miss that, absolutely we do. Everyone is just too selfish today😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s