Ulang Tahun dan Doa Ibu


Semakin tua, semakin kurang semangat nih merayakan ulang tahun. Saat masih SMP dan SMA, momen ini mungkin yang paling ditunggu: salah satu alasan untuk berkumpul dan bersuka cita dengan teman-teman. Makan-makan, gitaran, dan tertawa bersama. Sebuah kisah yang mungkin tak akan pernah hilang—  terdengar kuno, antik atau klasik? Buat saya sih engga, saya mencatat semua kenangannya satu per satu di memori saya, dan nama-nama mereka pun masih selalu ada. Buat mereka yang telah beririsan hidup dengan saya, terima kasih. Our paths crossed once and forever I will keep you cherished in my heart.

Menyelami kisah puluhan tahun lalu, adalah mengenang perjuangan ibu dan alm. Bapak yang telah menghadirkan saya ke dunia dan mengantarkan saya sampai ke jalan ini, dengan keringat, air mata dan doa beliau. Saya datang dari keluarga sederhana yang tidak terlalu peduli dengan peringatan ulang tahun. Saya tidak pernah merayakannya dengan mengundang teman-teman datang lalu meniup kue bersama di rumah. Alhamdulillah saat saya senang sekali pulang dari pesta teman dengan menjinjing sebuah “goodybag”, Nelly kecil tidak pernah merengek untuk dirayakan dengan cara yang sama. Untuk perasaan seperti ini, saya ingin berterima kasih pada alm. Bapak, yang selalu mengajarkan kesederhanaan dan syukur.

Namun saya lebih dari yakin, doa ibu dan alm. Bapak tidak pernah putus untuk kebahagian saya. Melihatnya di masa sekarang, saya tahu pasti ibu adalah orang yang paling bergetar hatinya apabila saya dan kakak saya berulang tahun. Beliau pasti orang yang paling syahdu berdoa agar saya dan kakak saya selalu bahagia, selalu sehat. Karena, lebih dari sekali, saya mendengar ibu dan alm. Bapak berbicara pada Tuhan: “Biarlah kami yang menanggung sakit anak kami, ya Allah, asalkan anak kami sehat”. Dulu, saya belum mampu mengapresiasinya secara sempurna. Saat ini, hati saya bisa basah berkali-kali apabila mengingatnya.

Kembali ke 10-15 tahun lalu, egoisme anak remaja dan orang yang beranjak dewasa sedikit sekali menyisakan ruang untuk menyelami perjuangan doa ibu. Terlalu sibuk merayakan dengan teman-teman, pasangan dan kolega. Doa Ibu tersudut dan tertinggal, lupa untuk diapresiasi. Usaha dan keringat ayah menguap begitu saja, dan lupa untuk diusap.

Berada jauh dari ibu dan umur semakin banyak angkanya, memberi saya banyak ruang romansa. Puluhan tahun lalu, Ibu saya berjuang melahirkan saya, memberi saya ASI sampai usia saya lewat dari 2 tahun, berjuang untuk memberikan makanan dan pendidikan yang terbaik buat kami. Tetesan keringat yang sama juga dari ayah.

Saya yang sudah berusia kepala 3. Seorang Nelly yang (mudah-mudahan) sudah mampu sedikit menyelami hati ibu dan alm. bapak. Saat ini, di momen hari ulang tahun ini, saya ingin sebentar memaknainya. Bagaimana Ibu saya berjuang menghadirkan saya ke dunia, di sebuah ruangan sederhana di RS. Carolus Jakarta. Saat banyak orang bilang bahwa nyawa ibu yang dipertaruhkan untuk saya, terdengar klasik, tetapi tidak hari ini. Dan kado yang paling saya harapkan saat ini dan sampai saya menua nanti adalah DOA IBU. Doa yang selalu saya takut jika tidak berkelanjutan. Doa yang mengantar saya sampai ke tempat yang saya tuju, bersanding hidup dengan sahabat jiwa saya, dan doa yang semoga selalu merahmati saya dalam menjalani berkah kehidupan.

“Terima kasih untuk doa dalam sujud-sujud panjangmu di malam-malam terjagamu, Ibu”.

Hari ini, saat ini, saya ingin sekali berucap padanya : Terima kasih sudah bertaruh hidup untuk saya, Ibu.

 

Summer 2012.

Madison, June 22, 2012.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s