Memberi Tidak Akan Mengurangi


Adalah almarhum Bapak saya yang selalu mengajarkan ini. Bapak pernah memborong sekarung mangga yang semuanya masam, tapi tidak sedikit pun binar marah pada wajahnya.Saat saya tanya, Bapak bilang ia tahu bahwa mangganya masam, tetapi hari sudah kelewat sore dan mangga orang itu masih demikian banyak. Atau lain waktu, Bapak pernah mempersilahkan beberapa tukang jualan pikul mengaso di teras warung rumah kami, saat hujan. Dan beliau membeli makanan yang mereka jajakan, padahal saat itu kami tidak perlu membeli makanan lagi.

Sepertinya hal itu tertanam sedemikian hebat di jiwa saya. Saya memang sensitif, begitu orang yang kenal saya selalu menyebut. Entah itu bermakna positif atau negatif, saya serahkan definisinya kepada mereka. Yang jelas, saya bisa sedemikian trenyuh saat melihat Bapak-bapak tua bertubuh renta yang berjualan, atau seorang ibu yang berdagang di pinggir jalan. Sikap saya ini acapkali menimbulkan geram beberapa teman. Pernah sekali waktu teman saya membentak saya, karena saya berulang kali jatuh kasihan pada seorang Bapak yang berjualan di bis dari Pasar Minggu menuju Depok. Atau lain waktu, saya pernah dibohongi (berdasarkan cerita kawan-kawan lain yang mengalami kejadian serupa) oleh seorang Bapak tua di terminal Depok saat hendak ke kampus. Terlanjur jatuh kasihan, saya pun mengulurkan satu-satunya uang sepuluh ribuan saya ke Bapak itu. Malah, saya mengajak kakak kelas saya untuk memberikan sejumlah uang kepada Bapak itu, setelah mendengar penjelasan saya, yang mungkin terdengar begitu dramatis. Sampai esok harinya, kami pun tahu, bahwa kami telah ditipu.

Menyesal? Tidak. Saya belajar bahwa Bapak tua itu pasti dalam kondisi perlu. Dan apapun itu, saya percaya Allah tidak pernah tidur. Saat keesokan harinya sampai minggu-minggu berikutnya saya lihat Bapak tua itu masih saja berkeliaran di terminal dan mencari korban-korban berikutnya, saya belajar untuk tidak mengecamnya.

Buat kita, tubuh-tubuh tua dan renta yang masih saja mengais rejeki di jalan adalah ladang amal kita. Jangan dicela, apalagi dihina. Jika memang belum mampu untuk ikhlas membantu, setidaknya bantu ia dengan sepotong doa, agar ia tidak mati kelaparan- mungkin kita ikut bertanggung jawab, jika itu terjadi.

Tulisan ini bukan untuk mengajak apalagi menyeru untuk bersedekah, ini lebih sebagai pengingat bagi saya sendiri, agar di antara puluhan ribu yang kita habiskan di restoran, coffee shop, mata kita selalu awas untuk selalu mencari sesosok tubuh tua dengan jualannya, sesosok tubuh kecil dan kurus yang memegang payung di kala hujan. Setidaknya rejeki yang ia usahakan bukan dari mengorupsi hak orang lain.

Dan kalung itu masih saya simpan. Kalung yang tidak saya perlu sebenarnya, modelnya pun bukan kesenangan saya. Kalung coklat yang kubeli dari seorang nenek tua yang berjualan di sekitar Borobudur. Seorang nenek yang masih saja harus mengais rejeki, padahal tubuh rentanya seharusnya istirahat.
Membeli darinya tidak akan mengurangi rejeki kita, sedikit saja, dari yang biasa kita keluarkan untuk keperluan pergi ke mall dan ngopi-ngopi. Binar mata tulusnya, sungguh hal yang membahagiakan. Terapi hati, agar senantiasa menoleh dan memberi.

 

 

Saxony, Madison,

Awal Agustus 2012.

Menjelang sahur.

One response to “Memberi Tidak Akan Mengurangi

  1. Mantab mbak Nelly, thank you for sharing🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s