Hybrid non Hybrid? Bukan lagi pertanyaan (penting!)


Sejak ambil kelas World Englishes, Bilingualism dan Sociolinguistics in SEA, saya jadi lumayan banyak membaca tentang identitas dan hibridity. Ide hibriditas tentu saja tidak hanya terjadi di tanaman, tetapi rasanya hampir di semua aspek kehidupan, mulai dari mobil, identitas, bahasa, lagu, film, dll. Beberapa tahun lalu saya memang meriset tentang code-switching dan memang terjadi banyak overlap ide di antaranya.
Tuh kan, belum apa-apa saya sudah menyelipkan satu kata bahasa Inggris di jajaran kalimat Bahasa Indonesia saya. Memang tidak terhindarkan.

Beberapa hari ini, saya kebetulan baru saja mulai mencoba sebuah head-set yang kebetulan banyak dipakai oleh anak-anak “gaul” undergrad di kampus US ini. Kalau teman saya yang di Iowa bilang: Wah Mbak Nelly pasti terlihat gaul gimana gitu ya, pas pake head-set itu”, itu komentarnya saat saya kirim pesan ke dia bahwa saya sekarang beralih dari Sennheiser ke Beats by dr. dre.

Dua hari pakai, saya rasanya – bukan GR, hehehe- banyak sekali mendapatkan perhatiaan mulai dari tatapan mata sampai pertanyaan yang langsung dihadapkan ke saya. Entah saya yang baru sadar, atau memang dr. dre ini memang mengundang banyak sekali pertanyaan karena dipakai oleh seorang perempuan, pakai jilbab pula. Sebelumnya pake yang segede gaban juga, tapi rasanya biasa aja, hehehe. Minimal gak ada yg sampe buka kaca mobilnya gt ya, pas lewat😀 Belum lagi kalau mereka tahu, bahwa saya bukan lagi anak undergrad. Mungkin ini gak cocok buat orang yang udah lebih dari 30 tahun ya?🙂
Kemarin pagi, seorang kolega bertemu saya di depan kelas, sebelum workshop dimulai, kira-kira begini pertanyaannya: “Wow Nelly, your headphone!”

“Why?” Tanya saya sambil membuka headset saya dan menyimpannya di dalam tas.

“Oh no, was just surprised that you are using that one, not the small ones”

Lalu saya pun tertawa sambil menjelaskan beberapa alasan ke dia, salah satunya alasan kesehatan dan juga saya bisa konsentrasi dengan baik saat menulis, membaca dengan quality head-set.

Setidaknya teori saya berterima: head-set saya kelewat aneh, mungkin. Harusnya sih biasa saja, karena di kampus UW-Madison, hampir tiap saat saya ketemu dengan orang yang memakai headset gaul segede gaban ini. Tetapi, mungkin menjadi tidak biasa karena dipakai oleh mahasiswi yang bukan undergrad, jilbaban pula. Saya sih gak keberatan dengan pandangan mata itu, udah biasa. Penampilan saya juga udah “aneh” buat mereka, jadi tinggal hanya menambahkan satu keanehan lagi apa salahnya thoh? Mudah-mudahan ini bisa jadi bahan pelajaran bagi komunitas kampus ini, bahwa seorang Islam, muslim, juga manusia biasa yang perlu mendengarkan musik dari sebuah headset kualitas baik. Perkara itu dianggap gaul, yah biarin aja. Saya memang seneng bergaul🙂 Jilbaban dan dr. dre? Itu hibrid banget donk, ah!🙂

Kembali ke masalah hibriditas, siapa sih sekarang yang bisa mengklaim dirinya murni dan hanya terdiri dari satu entitas dan identitas? Saya sih udah pasti gak bisa! Sejak lahir saja, saya sudah diberi sebuah identitas yang terdengar dan berasal bukan dari pengaruh Indonesia. Meskipun saya bukan keturunan Belanda, tetapi nama saya Eropa abis, deh!

Nelly Martin! Bukan nama Indonesia. Jadi berkali-kali pula saya harus menjelaskan kalau nama ini asli pemberian orang tua sejak kecil dan bukan diganti karena mau pergi ke luar negeri seperti yang dilakukan oleh banyak orang Cina. Bukan sedikit teman saya yang berganti nama menjadi Phoebe, May, Song, Carol, dan tetap memakai nama China mereka, tentu saja. Buat saya sekarang, mungkin ini nilai investasi yang diaplikasi oleh almarhum Bapak saya, jauh sebelum Bonny Norton mencetuskan ide investment. Atau juga perwujudan dari ide imagined community-nya Ben Anderson atau capital-nya Bourdieu. Almarhum Bapak saya mungkin sudah mengangan-angankan saya bisa fasih berbahasa Inggris dan bisa berkelana ke negara-negara berbahasa Inggris. Melalui nama jadilah itu untaian doa– teori ini dari Islam, agama saya yang kebetulan turun di tanah Arab. Lagi-lagi hibriditas tidak terelekkan, bukan?

Laptop saya produk keluaran Amerika yang didisain di California, tetapi diproduksi di Cina- nah kan? Satu produk saja sudah hybrid! Headset saya ada dua, satu buatan Jerman dan lainnya buatan Amerika. Lagu-lagu yang saya dengarkan berkisar dari Indonesia, Arab, Amerika Utara, Pasifik dan Eropa— gak mungkin rasanya saya cuma mendengarkan satu jenis musik, bahkan lagu dari satu bahasa pun seringkali mencampurkan dua bahasa- lagi-lagi percampuran. Beberapa baju yang saya pake, katanya merk Amerika, tetapi diproduksinya di Indonesia, Vietnam, Honduras, India, juga– untuk satu baju saja, hybridity terjadi🙂. Itu juga terjadi untuk dompet, kacamata, tas, sendal, sepatu, boots, ayo apa lagi?

Untuk tataran pergaulan personal dan akademis, profesor saya mulai dari orang British, orang Jerman, orang Amerika, orang Indonesia, sama halnya dengan teman-teman saya, hampir dari seluruh benua– nah kan, di kehidupan sehari-hari saja, saya udah gak mungkin “murni”.

Intinya, hidup di dunia serba global ini, kita bisa jadi lokal buat diri sendiri, tetapi tetap proses percampuran identitas terjadi🙂 Hari ini gini mau mengklaim kita tidak terpengaruh budaya dan nilai orang lain? Buat saya sih hampir gak mungkin. Jangankan hari gini, di mana informasi cuma “one click away”, dari jaman dulu kala aja, kita udah merasakan perpindahan dan  pengaruh budaya kok. Buat ibu dan kakak saya yang belum pernah menetap di luar negeri saja, mereka juga tak pelak dari pengaruh hibriditas ini– Minang dan Islam banyak sekali dipengaruhi oleh Cina dan Arab. Yang menonton dari televisi keluaran Jepang untuk menonton drama Korea, film-film Amerika, atau film/sinetron Indonesia yang sudah demikian kental dengan pengaruh Amerika, dll. Tentunya ini bukan saja terjadi di lingkungan keluarga saya, tetapi juga di kebanyakan masyarakat Indonesia yang selain hobi nonton film Hollywood, juga senang sekali berbelanja ke mall untuk beli produk tas Amerika, Italia🙂. Mobil Jepang pun menjadi pilihan masyarakat kebanyakan, dan mobil Eropa menjadi pilihan bagi mereka yang berpunya lebih atau demi sekedar menaikkan gengsi.

Jadi, kalau sekarang sih saya cukup nyaman dengan saya: Bernampilan (ehm, mungkin) keArab-araban, berheadset ala anak gaul Amerika? Mudah-mudahan otak saya Jerman punya deh, ya!

hehehehhe

Tentu menjadi hibrid, kita tetap boleh lho ke pasar tradisional dan belanja merk lokal dan makanan tradisional. Menjadi global dan modern tidak selalu kita melupakan akar kita, tetapi lebih terbuka dengan ide luar dan tetap menjaga apa yang menjadi prinsip dasar kita– pendapat sederhana saya. Pastinya banyak salah, dan mudah-mudahan ada sedikit yang betul.

Menunggu di sebuah taman antara Van Hise dan Ingraham Hall,

Madison, Akhir Agustus 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s