Karena bahagia itu… harus kita definisikan sendiri…


Pagi ini. Salah satu obrolan ringan dengan beberapa sahabat saya di belahan dunia sana menggelitik saya. Saya yang memulai. Tentang Umur. Umur kami yang tidak lagi muda (age is mind over matter, no? :p if you don’t mind, it doesn’t matter!).

Teman saya bilang, kira-kira begini: “Hidup di usia sekarang hanya untuk bekerja, lalu fokus menjadi tauladan anak.”

Saya setuju. Ya, buat kebanyakan orang tua, apalagi yang lebih penting selain menjadi contoh yang baik untuk anak-anaknya kan?

Tidak lama kemudian, teman tersebut meralat ucapannya, kali ini kata anak dihilangkan. Lalu meminta maaf pada saya. Saya bingung, lalu saya tanya: “Kenapa minta maaf?.” Saya kemudian sadar, “Karena masalah anak? Ah, gak papa kali.”

Saya bersyukur teman saya ini sensitif. Tapi, sungguh, saya tidak merasa apa-apa. Jadi tidak perlu repot-repot menghilangkan topik tentang anak, jika saya sedang berada di dekat kalian semua atau di chat Whatsapp kita. Jika saya bisa ikut nimbrung, saya akan kontribusi. Jika saya tidak punya pengetahuan cukup, saya bisa menjadi pendengar. Mendengar yang akhirnya membuat saya belajar.

Buat saya kebahagiaan orang lain, tidak mendefinisi arti kebahagiaan buat saya. Saya senang apabila teman-teman saya memasang foto anak-anak mereka yang lucu dan mungil di Facebook, Path. Saya kasih jempol. Jempol yang buat saya artinya “Saya suka foto anak ini. Anak ini lucu. Menggemaskan.”   Tidak  lebih tidak kurang. Tidak ada makna pragmatis lain.

Untuk perempuan seusia saya punya anak kan sudah kurva normal. Saya yang outlier. Lalu, karena saya tidak berada di dalam garis rata-rata,  saya lantas menjadi sedih, marah, dan kecewa?  saat senyum teman-teman yang terkembang saat menggendong anak-anak mereka yang lucu, masa saya malah menangis? Alhamdulillah sejak dulu dan sampai sekarang saya tidak pernah dihinggapi rasa itu. Mungkin saya percaya bahwa tiap orang berhak memilih jalannya untuk berbahagia, dan bersyukur. Ada banyak hal dalam hidup untuk  bisa kita syukuri: Punya anak pintar cerdas, punya pasangan yang pengertian, punya orang tua yang kaya-raya, ah ada banyak! Terlalu banyak untuk ditulis satu persatu. Tapi kan gak mesti punya semua lantas kita baru bisa bahagia, kan? Minimal buat saya sih, punya satu diantaranya, sudah bisa membuat saya bahagia!

Buat saya, hidup saya hari ini, makanan yang saya makan, punya waktu untuk bercerita dengan teman-teman jauh dan dekat, bisa punya waktu membaca dan menulis lalu ngobrol-ngobrol ringan dan bodoh dengan si Lesky, bisa membuat bahagia.

Kebahagiaan kita tidak harus sama definisinya dengan orang lain. Itu yang saya pelajari.

Pagi ini sebuah SMS saya kirimkan ke seorang teman, isinya: “You are one of positive people I know. I learn that people who are content with their life will do justice to others. Those who are insecure may be unhappy with theirs so they take it out to others.”

Dan  seiring perjalanan waktu, saya pun belajar untuk tidak merecoki kebahagiaan orang lain, hanya karena sesuatu yang tidak saya punya. Meskipun tidak terlalu agamis, saya percaya Allah selalu punya rencana indah untuk umatnya. Termasuk saya.

Wallahualam,

Madison, hari ketiga Musim Semi.

International happy day is celebrated every March 20!

Let’s be happy and stay happy!

One response to “Karena bahagia itu… harus kita definisikan sendiri…

  1. sintha dessyliantri

    Dear nelly…

    Gw setuju banget dg opini loe…
    And gw salut dg cara pandang loe yg selalu positive thinking. (Kalo ini gw harus banyak belajar dari loe ..🙂 )

    Memang, kadang setiap manusia selalu ingin merasakan kebahagiaan yg oranglain punya…
    Tapi semakin kita menginginkan persamaan itu, semakin kita merasa kita kekurangan…
    Intinya sey, katanya kita harus banyak bersyukur atas apa yg sudah kita punya.. (yg inipun gw musti banyak belajar, heee..)

    Kalo boleh gw menghitung kebahagiaan, dalam hati sebenarnya memuji qm nel, heee…
    Qm pun memilki kebahagiaan yg lebih setidaknya ada beberapa hal dibanding yg terlihat oleh gw…
    Kalo orang lain sudah memilki anak, sedangkan kalian belum, apa lagi dibandingkan gw, yg jangankan anak, pasangan pun belum punya dan seringkali gagal dalam membina hubungan sebelum sampai ke pernikahan… (sedikit curcol ney, nel, heee… )

    Tapi kembali lagi, seandainya kita masih saja melihat yg oranglain punya, kita makin merasa kecil dan kekurangan…
    Padahal kebahagian itu katanya simple, cuna bersyukur atas apa yg sudah kita punya…
    Yg sudah punya anak bersyukur memilikinya, yg belum punya anak bersyukur setidaknya punya pasangan untuk berbagi dan menyayangi, yg belum punya pasangan pun bersyukur masih memiliki waktu untuk membahagiakan orangtua (insyaAllah..), dan masih banyak hal lain yg harus kita syukuri…

    Wah, panjang ternyata mendeskripsikan kebahagiaan yaa, nel…
    Tapi thanks, tulisan loe bisa menginspirasi gw juga….

    Luv u nel….

    Sintha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s