Why do you feel thankful?


Sering gak sih kita dengar seorang ibu kepada anaknya: “Kamu tuh mesti bersyukur, bisa makan, bisa sekolah, coba anak-anak di Afrika sana, mereka mau makan aja susah?”

Siapa yang sering mendengar ini saat kecilnya? Saya tau beberapa kolega saya sering, dan kebiasaan ini pun mereka turunkan ke anak-anak mereka. Tapi saat itu, saya masih melihatnya hanya dari sisi permukaannya saja.

Kenapa tetiba saya ingat lagi dengan kalimat “syukur” ini? Saya jadi lebih reflektif terhadap kalimat ini setelah melihat sebentar tayangan sebuah talk show dari sebuah TV masa kini di Indonesia. Di sela-sela baca dan nulis, saya selalu sempetin buat buka YouTube untuk tahu apa yang sedang jadi trend di Indonesia. Pilihan kali ini saya sempet nonton dan mendengar pembicaraan antara seorang artis yang sedang rajin promosi film dokumenter yang memotret wajah Papua. Sang artis menggambarkan bagaimana perih dan sulitnya hidup di salah satu daerah Papua, yang hanya untuk membeli garam pun, harus berjalan 4 km dahulu. Sampai sini saya masih terharu, tapi kalimat terakhirnya membuat saya jadi mikir “….karena itu kita harus bersyukur dengan betapa mudahnya hidup kita di sini….” Tentu saja kalimat ini mendapat tepuk tangan dan pujian dari penonton dan pembawa acara. Tapi buat saya, ada yang ganjil…….

Buat saya, makna terdalam yang saya mengerti dari dua anekdot ini adalah: Mari kita bersyukur, karena hidup kita lebih mudah daripada orang lain.

Pertanyaan yang menggelitik saya adalah “mengapa kita baru bisa bersyukur saat kita melihat orang lain lebih susah hidupnya?” atau “untung ada orang susah, jadi saya bisa bersyukur.”

Tidakkah kita bisa bersyukur dengan apapun yang kita punya? Apakah kita harus selalu memerlukan pembanding, semoga keadaannya lebih buruk dari kita, sehingga kita bisa bersyukur? Lalu bagaimana saat melihat teman dan saudara kita lebih baik hidupnya? Kita tidak perlu bersyukur dan untuk kemudian membencinya? Jika ya, maka saya namakan ini sebagai syukur pamrih. Implikasi terbalik dari syukur pamrih ini adalah membenci untuk kemudian bersikap iri atas kenikmatan orang lain, bukan begitu?

Bukankah harusnya kita sudah bisa bersyukur atas hidup sendiri? Karena buat saya, dengan kita selalu mencari alasan untuk bersyukur, kita menjadi sangat pamrih terhadap hidup dan sang pemberi hidup. I feel like I am asking God to give me reasons to be thankful, and one of which is to witness the unfortunate lives…

Buat saya ini pamrih, dan….. ehm, terkesan tega….. Maka, saya beri nama ia sebagai “Syukur Pamrih”. Sepertinya kita bersyukur atas apa yang orang lain tidak miliki, bukan karena yang kita miliki.

Up to this point, I still give it a benefit of a doubt. Mungkin yang dimaksud adalah mengambil pelajaran atas keadaan orang lain? Tapi buat saya tetap tidak adil, karena keadaan orang lain adalah takdir yang terjadi atasnya atau atas mereka, bukan karena sebuah kelalaian yang mereka lakukan. Lalu, mengapa kita bersyukur atas apa yang Tuhan kasih kepada mereka, yang kebetulan kita anggap kurang beruntung, untuk kemudian kita tersenyum atasnya? Tetapi ini penuh asumsi kan? Siapa bilang bahwa keadaan tidak beruntung mereka membuat mereka menjadi tidak lebih baik dari kita, jangan-jangan mereka justru mempunyai hati yang lapang, jiwa yang tenang dan badan yang jauh lebih sehat dari kita, karena hidup menimpa mereka dengan seksama. Mutiara lahir dari tempaaan, bukan? Jangan-jangan orang lain yang kita anggap hidupnya jadi alasan kita untuk bersyukur, malah menyimpan banyak hikmah dan berkah….who knows? No one. Karena itu, mari tidak berasumsi, dan berhenti melihat keburukan orang lain untuk lebih bersyukur. Mari kita bersyukur tanpa pamrih, tanpa kondisi, tanpa asumsi🙂

Bahwa kita hidup, bahwa kita bisa melihat matahari di pagi hari, tidakkah sudah cukup menjadi alasan kita untuk bersyukur? Mari cukupkan dengan syukur bukan karena kita melihat mereka lebih berkekurangan dari kita….Mari bersyukur untuk nafas, untuk hidup, dan bukan karena kita melihat hidup orang lain lebih menderita dari kita. Mari bersyukur untuk hidup dan semua yang ia tawarkan dalam hidup kita.

Just like Tecumseh, one of the famous native American figures, said: When you rise in the morning, give thanks for the light, for your life, for your strength. Give thanks for your food and for the joy of living. If you see no reason to give thanks, the fault lies in yourself.

Beryukur, bukan karena kita melihat orang lain yang kurang beruntung dari kita. Tetapi kita bersyukur tanpa pamrih, bersyukur karena rasa syukur. Dengan kata lain, bersyukurlah setiap menit, setiap detik, dan tidak perlu pembanding, atas hidup dan atas kita. Karena kita dan hidup tidak melulu bersisian jalan, suatu saat kita mesti berpisah, dan saat itu terjadi, mungkin kita tidak lagi bisa bersyukur atas hadirnya hidup di dalam diri kita.

Bingung ya? Sama, hehehe. Saya memang suka mikir kelewat ajaib, tapi saya cuma pengen bilang: Be thankful for what you have and don’t be less thankful just because you have less.  And more importantly, don’t be thankful when you see the unfortunate lives…..because you never know, in spite of their being poor (to your judgment), they may have a strong and big heart, which you may lack of. We never know. That said, just be thankful for what you have, nothing less. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s