Mencari syahdu di bumi Allah (Merayakan Idul Adha di Missoula, AS)


Ada yang spesial pagi ini. Kamis, 24 September 2015. Ya, hari ini adalah hari Idul Adha. Lalu mengapa spesial? Karena saya diberi kesempatan merayakannya di salah satu negara bagian dengan jumlah komunitas muslim paling sedikit di Amerika Serikat: kota Missoula, negara bagian Montana. Komunitas orang Indonesianya pun sedikit sekali, berbeda sekali dengan tiga states yang pernah saya tinggali: Hawaii, Ohio dan Wisconsin.

Setelah seminggu mencari informasi tentang Sholat Eid dan Sholat Jumat, mulai dari bertanya dengan teman, google, email, alhamdulillah informasi didapatkan pada satu hari sebelum Eid.

Pagi tadi, pukul 7 pagi kami sudah berada di Jalan Broadway untuk menuju 6th street tempat di mana Muslim Student Association (MSA) house terletak. Suhu kota Missoula sekitar 15 derajat di luar. Cukup sejuk🙂, belum terlalu dingin.  MSA house terletak hanya 1 blok dari kampus University of Montana. Saya awalnya agak khawatir karena lahan parkir di sekitar kampus harus memakai permit. Namun kekhawatiran agak sedikit sirna karena peraturan berlaku mulai pukul 8 pagi sampai jam 5 sore, dengan 20 menit flexibility (artinya tidak akan didenda sampai pukul 8:20, yang menurut perhitungan saya sholat akan telah selesai saat itu).

Sesampainya kami (suami dan satu kolega dari Indonesia yang juga mahasiswi S2 di U of M), kami mengetuk pintu MSA yang masih terlihat sepi. Setelah dibukakan, saya dan Wuri dipersilahkan ke bagian depan, khusus wanita, sedangan suami saya harus ke bagian bawah.

Sholat Eid baru akan dimulai pukul 7:40, saya dan Wuri pun melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid sambil menunggu jamaah lain datang. Informasi yang saya terima, ada sekitar 40 orang Muslim di negara bagian ini.

Saat jam  menunjukkan pukul 7:20an, mulailah jamaah lain berdatangan. Sampai akhirnya ada sekitar 7 orang dari kami, dan 1 orang Amerika yang datang untuk mengobservasi berkaitan dengan kelas Multicultural yang ia ambil. Setelah saling bersalaman dan mengenalkan diri, kami pun kembali duduk berputar.

Dalam 20 menit itu, suara takbir yang dikumandangkan oleh jamaah laki-laki menyentuh kalbu kami. Dalam diam dan syahdu kami pun bertakbir. Lalu, apa yang menarik? Karena baru kali ini saya sholat Eid dengan jumlah hanya 8 jamaah wanita dan 15 jamaah laki-laki!🙂 Juga, kesyahduan yang tidak saya dapat saat sholat di tempat besar, seperti di Madison dengan jumlah komunitas Muslimnya yang mencapai ratusan sehingga kami harus sholat di Marriot Hotel, hiruk pikuk, atau saat di Honolulu, di mana kami sholat di tanah lapang di depan Pantai Ala Moana, yang sama hiruk pikuknya dengan Muslim dari berbagai bangsa yang membawa kebiasaan masing-masing. Tentu saja pengalaman ini memberikan pelajaran berharga buat saya, meskipun suasana di dua kota itu tidak sekhidmat saat di Indonesia atau saat di sini.

Sholat Eid kali ini mengingatkan saya pada pengalaman sholat Eid di Islamic Center di kota Athens, di negara bagian Ohio, di mana kami juga sholat hanya dengan sekitar 20-an wanita (jamaah laki-laki lebih banyak), atau di Mesjid Hezeerweg di Eindhoven, dengan jumlah hampir sama.

Pagi itu, saat matahari masih belum menerangi Missoula sepenuhnya, dan dalam suhu sekitar 15 C pagi itu, kami pun hikmat dalam takbir. Di bumi Allah di mana hanya segelintir kami, nama Allah dikumandangkan. Sungguh indah dan syahdu.

Untuk dapat sholat Eid kali ini, saya dan L juga Wuri harus gemar bertanya sana-sini, mengirim email tak berbalas, mengirim Whatsapp yang hanya dibaca tanpa respon, Google berulang kali, sampai pernah terpikir “kalau tidak ketemu informasinya, semoga tidak apa-apa jika tidak sholat”. Thoh, saya dan L saat ini kapasitasnya travellers a.k.a musafir😉

Di situlah saya lagi-lagi diingatkan, bahwa tiap orang memiliki jihadnya masing-masing. Tidak semua orang diberikan rejeki uang, waktu dan tenaga untuk berhaji ke Mekah, misalnya, atau di bumi bagian lain, untuk sholat Eid bukanlah sebuah tantangan….. Maka, berjuanglah dalam kapasitas yang kita sanggup.

Menjadi minoritas membuat saya belajar untuk lebih menghargai orang lain saat saya menjadi  mayoritas. Tidak menghakimi, tidak merasa lebih baik, tidak merasa paling benar dan tidak merasa surga adalah milik kita seorang adalah beberapa di antaranya.

Berislam di Amerika? Tidak mudah, tetapi juga tidak perlu dipersulit. Alhamdulillah sejauh ini pilihan pakaian saya tidak membuat saya menerima perlakuan buruk, malah saya mendapat teman-teman baru dari mereka yang berbeda latar agama dan budaya. Alhamdulillah.

Dan pesan untuk teman-teman di Indonesia, mari lebih perduli pada kaum minoritas, karena hakikatnya memiliki power itu justru dapat memberikan keleluasaan bagi orang lain untuk beribadah sesuai yang mereka yakini.  Dua hari lalu saya melihat sebuah peringatan di jalan raya: Please yield to pedestrian, because you have the power.  Saat membacanya saya pikir ini analogi yang tepat untuk kita terapkan di semua aspek kehidupan kita. The fact you are powerful should not make you excercise the power to others, but rather you empower them!🙂

Setuju?🙂

Pukul 8 lebih lima, setelah sholat Eid dan pembacaan doa selesai kami pun bersalaman dan menikmati hidangan yang telah tersedia. Secangkir kecil kopi dari Arab dan Baklava pun membatalkan puasa saya pagi itu. Nikmat.

Sampai di apt, hidangan lebaran kami adalah gulai kale yang dimasak oleh teman kami yang berbeda agama🙂. Sungguh indah jika semua berharmoni, bukan?

Ps. Ada beberapa gambar yang saya ambil, tetapi tidak gambar jamaah wanita karena wanita dari Saudi Arabia tidak berkenan untuk difoto.

Ps2. While today is a festive day for Muslims around the world, this is also a mournful one for us. Let’s send out our hearts and prayers for the victims in Mina and Yemen.

Ya Allah, di bumiMu ini, kukirim doaku untuk semua saudaraku yang tertimpa bencana di Mina dan Yemen. Juga untuk semua saudara-saudara kami di mana pun mereka berbeda.

Muslim Student Association, U of Montana. Pagi hari.

Muslim Student Association, U of Montana. Pagi hari.

Hidangan untuk berbuka puasa setelah selesai sholat Eid disediakan oleh pengurus MSA.

Sebagian hidangan untuk berbuka puasa setelah selesai sholat Eid disediakan oleh pengurus MSA.

Missoula, Montana, Fall 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s