Ramadan dan interpretasi: Berbagai wajah puasa


 

Tulisan ini ringan banget, karena saya bukan ahli agama Islam. Tulisan ini adalah anekdot yang saya sarikan dari pengalaman saya bergaul dan berinteraksi dengan beberapa kawan Muslim dari beberapa negara yang saya temui di beberapa states.

Anekdot ini mengingatkan saya kembali bahwa teks memang terbuka dengan intepretasi, maka saya menyebut cuplikan penggalan ini adalah Ramadhan dalam berbagai wajah…

Saya mulai penggalan ini dengan cerita beberapa kawan dari Saudi Arabia yang saya temui di kota Northampton, Massachusets, di pertengahan tahun 2011..

Berikut kisahanya:

Ramadhan yang panjang di musim panas adalah alasan yang tepat bagi sebagian besar mahasiswa kaya Saudi Arabia… untuk pulang kampung! Ya, mereka tidak mikir sekali dua kali untuk membayar tiket pesawat supaya bisa menjalankan puasa di negara asalnya. Beberapa di antara mengatakan kepada saya alasan sejujurnya “The atmosphere is not supporting for me to observe Ramadan here and the day is long, so I better go home and observe Ramadan with my family and in the environment that I am familiar with.” Dengan kata lain, mereka berusaha menghilangkan hal-hal yang berpotensi mengaggalkan ketasbihan ibadah mereka. Alasan lain adalah: Gak kuat puasa di musim panas, haus dan jamnya kelewat panjang! dan beberapa teman lain sering mengajak minum dan makan siang, dan mereka merasa gak enak hati untuk selalu menolak.

Lain lagi dengan kisah beberapa kawan Muslim dari Turki, yang memahami ibadah puasa sebagai hal yang seharusnya tidak memberatkan….

Cara yang dilakukan beberapa mahasiswa Turki adalah mereka akan mengganti puasa mereka di bulan Desember atau Musim Dingin (Winter) saat matahari tenggelam pukul 4-an (Winter)…. Jadi mereka menamai konsepnya sebagai puasa pengganti karena mereka kepayahan berpuasa di Musim Panas…..

Lain dengan beberapa Muslim Turki dan Saudi Arabia, lain pula yang dilakukan olehh beberapa teman dari Pakistan, Iran, dan juga Indonesia…..

Beberapa teman ini punya cara bepuasa makanan saja, tetapi masih minum, karena berdasarkan interpretasi mereka, berpuasa adalah melatih diri dalam berdisplin dan memantang beberapa hal yang mereka suka (to give up something that they really like or need). Maka, mereka pun memilih tidak makan, namun masih minum…..

Beberapa teman lain, mengaplikasikan berpuasa dengan berpuasa sesuai jam di negaranya.. Waktu itu di Hawaii, saat saya berjumpa dengan K seorang Muslim dari India, yang pada pukul 6 masih asik makan pagi. Meskipun saya tahu dia Muslim, tetapi saya juga menghormati haknya maka saya pun tidak bertanya. Pertanyaan malah datang darinya “are you fasting Nelly? Why aren’t you having your sahoor?” Saya pun kaget dan menjelaskan bahwa saya sudah sahur sejak jam 4 subuh. Lalu dia pun menjelaskan, bahwa kalau kita sedang berada di negeri yang bukan tempat asal kita, kita bisa berpuasa sesuai jam negara kita, dan dia pun melanjutkan “It’s still time for Sahoor in India, so I can still eat…”

Intepretasi lain adalah beberapa teman yang menerapkan konsep hampir sama dengan teman India saya itu…. yaitu sahur dan berbuka sesuai jam Indonesia, 12 jam, tidak mengikuti hitungan matahari tempat kami tinggal (sementara waktu)…..

Selain itu, ada juga yang mengartikan berpuasa di bulan Ramadan sebagai langkah menyucikan diri secara spiritual. Maka, jalan yang ia pilih adalah berpuasa dengan mencoba bersikap dan berpikir positif, meskipun masih boleh makan dan minum. Menurut teman ini, hal yang paling esensial dari berpuasa adalah menjadi Muslim yang lebih baik secara mental dan rohani. Maka, interpretasinya adalah berpuasa di dalam hati dan meningkatkan rohani ke arah yang lebih baik.

Jadi begitulah, Ramadhan dalam beberapa interpretasi… Saya pun mengerti bahwa teks dan pemahaman memang akan sangat beragam… Saling menghormati adalah kunci. Tidak merasa yang paling benar karena setiap orang memahami teks dan bisa berintepretasi sesuai dengan kadar pengalaman, pemahaman dirinya. In other words, if there is a mainstream culture, there will be some sub-cultures or an intepretation is layered and is not a single entity.

Insya Allah nanti saya tulis juga tentang pakaian sholat dan sholat Eid, lagi-lagi dalam beberapa interpretasi…

Selamat berpuasa bagi yang menjalankan.

PNW, Summer 2016. Satu hari menjelang Ramadhan di tahun kesepuluh di bagian utara bumi…

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s