… (we all just need to) keep going…


Momen ini gw namain #curhatdisertasi heihiehi

Gw jarang sebenenya curhat soal disertasi di WordPress yang publik gini, paling banyak si di Path yang emang cuma dikit banget temennya.

Tapi kayanya pelajaran selama dua tahun nulis di bawah bimbingan adviser sekaligus mentor yang emang terkenal cerdas banget (Well, she graduated from UW-Madison, got hired as as an assistant professor at UCLA to be invited by UW-Madison because of her achievement in SLA and applied linguistic research, and got hired as an associate professor in UW-Madison with double appointments in SLA and Dept. of African Languages and Lit in Fall 2013 against three other prominent candidates, and to be promoted as a full professor in Spring 2016!— gak gampang banget jadi full prof di public univ di US, harus banyak publikasi dan grants awards! and she did it only in less than 3 years!), kritis banget (dia bisa kasih komen yang bikin gw mikir sampe berminggu2 hahahah), dan efisien banget! Dan saat kita sering membayangkan bahwa kebanyakan profesor adalah orang yang sudah tua umurnya, she is only on her early 40s! Yang muda, yang berprestasi, kalo kata anak gaul mah😀

Perjalanan PhD gw ga penuh bunga, dalam artian, gw nemuin dan ngadepin kerikil tajem tiap tahunnya…. tiap tahun ada aja tantangannya dan bukan tambah mudah…. Makanya kalo ada yang komen: Tinggal nulis aja ya? Bukaannnnnnnnn tinggal! that is like the CORE of the whole journey!

Long story short, setelah melewati 2 tahun course work di mana gw mesti ambil Statistik selama 2 semester (yang bikin gw begadang ga kelar2 di awal2 PhD course work), ambil bahasa Jerman (karena kuliah di SLA harus bisa membaca selain bahasa ibu, bahasa Inggris, kita mesti bisa baca satu bahasa lain) dan tentu saja setelah semua mata kuliah wajib SLA…. Setelah dua tahun, akhirnya gw bisa lulus prelims, di musim panas 2013, tapi perjuangan untuk jadi PhD Candidate belum selesai sampai situ, karena gw harus nulis proposal dan defense untuk bisa dinyatakan sebagai PhD Candidate…… yang terjadi hampir setahun setelah prelims….

Udah banyak banget lha darah dan air mata (ga lebay, ini serius!) hihihihaiha, dan cobaan belum selesai sampai situ, karena gw harus ganti adviser karena satu dan lain hal…. dan nulis di bawah bimbingan adviser gw skrg…. Ganti adviser artinya ganti research plan….. maka proposal yang udah gw tulis selama 2 semester seperti menguap begitu sajaaaa….. dan gw mesti menulis ulang disertasi ini dari awal lagii karena gak ada yang bisa dipake dari proposal yang udah gw tulis….  Summer 2014 awal mulai penulisan disertasi di bawah bimbingan adviser gw ini, KT,…. Tetntu aja gw sesak aja gitu, kerjaan dan tulisan selama 1 tahun menguap begitu saja…. Emang sih ilmunya tetap tinggal dan gak ke mana-mana, tapi tetep ajaaa ya….. 1 tahun! gone with the wind.

Udahlah nulis disertasi itu ehmmmm…… perjalanan mencari diri sendiri yang seringnya emang sepiiiii ( this is indeed a lonely journey!) Cobaan di luar akademik ga henti-henti menyapa hidup gw…. (Kalau dipikir lagi sekarang kadang gw ga tau how I could withstand those trying periods—- tapi, memang di saat langit gelap, kita bisa melihat keindahan bintang bukan? di antara segala kesulitan yang gw lewatin, gw malah menemukan orang-orang baik yang jasanya banyak banget dalam hidup gw dan melewati semua cobaan dan rintangan itu– kudos to all of them yang namanya akan selalu ada di hati dan otak gw. Sampai kapan pun!). Belum lagi adviser gw yang super cerdas dan kritis ini bener-bener super teliti banget…. pertama kali kirim draft analisis ke dia….. dibalikin dengan banyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkk bangeeeeettttt komentar dan intinya: I don’t see any argument at all! (ya ampun Mak, gw udah ngulas dan nulis segitu panjang, dibilang ga ada analisis sama sekali….)…. malem-malem panjang begadang gw tiba-tiba ga ada gunanya….. dan yaaa benar yang orang bilang bahwa: lebih dari apapun, perjalanan PhD adalah perjalanan menemukan diri sendiri…. perjalanan bahwa ilmu kita ga ada artinya sama sekali di antara ilmu yang terhampar di universe ini… perjalanan yang mengajarkan bahwa semua yang kita punya itu cuma secuil banget, gak ada artinya… kayanya gw ga pernah merenung, mikir, nangis, begadang sebanyak ini dalam hidup gw sebelumnya….di momen-momen yang mengajarkan bahwa kritikan dari adviser adalah sebuah tanda perhatian (the fact that she invests her time reading my work and giving detailed comments suggesting that she actually cares, and not otherwise— engga, engga gampang untuk dapat dan datang pada kesadaran ini, memerlukan momen-momen penemuan yang tentu saja penuh air mata hieihiheihe) dan merasa bahwa aku adalah orang terbodoh di dunia (dan  jadi malu, pas dulu kelar sarjana, lalu ke jenjang master’s kayanya udah merasa tahu banyak hal…aahhhhh aku maluuuuuuuuu kalo inget itu. Maafkan aku……)….. Kerja di bawah bimbingan adviser gw yang super pinter ini sering banget bikin gw mimder bahwa ilmu gw ga ada apa-apanya, dan di antara frustasi gw, gw email aja semua perasaan insecurities gw ke dia, dan dia dengan tegas tapi perhatiannya bilang yang kira-kira gini deh isinya (aslinya lebih indah lagi kata-katanya, ini rangkumannya aja): Nelly, everyone in academic will need to go through the process you are currently going through. Even a  professor will receive lots of feedback on her manuscript from their colleagues, and that is the essential part of learning- that we should never stop learning!)

Dari senior-senior SLA lain gw juga belajar bahwa mereka mengalami yang sama dan mirip. Di mana draft mereka dibalikin dengan super overwhelming comments, dan di bawahnya komen sang adviser:  Where is your analysis? (Coba itu puluhan/ratusan halaman apaaaan yaaaa, analisisnya masih belum muncul)– Ini bukan untuk menyamakan pengalaman, karena every PhD experience is unique, but I just wanted to point out that every single thing in this journey is a learning curve and a learning process. Namanya curve, pasti ada saat turun kan ya, untuk kemudian naik lagi. Amin.

Adviser gw ini emang kelihatan kaku banget dari luar, tapi she actually has a soft spot in her. Di antara keseriusan dia, sibuknya dia nulis buku dan publish journal, dia tetep mau balesin email-email gw yang kadang norak banget, dan dua kali dalam satu semester kita nge-date di coffee shop gitu. Banyak temen-temen SLA gw yang bingung kok gw berani ngambil keputusan untuk nulis di bawah bimbingan dia (terkenal kaku dan ga suka kompromi orangnya!), dan mereka juga bingung kok gw bisa nge-date bareng ama adviser gw : Does she talk at all?, ihiehiheihe). Pertama kali janjian minum kopi ama dia di salah satu kedai kopi di kampus, dia jemput gw lho di tempat gw jadi project Assistant! Kaget asli! kira-kira 15 menit sebelum waktu janjian, gw pun berkemas untuk jalan ke kedai kopi itu, dan saat gw mau matiin komputer kantor, tiba-tiba aja dia udah diri di depan kubikel gw : Hi Nelly, are you ready to go?– gile kan! Profesor nyamperin gw buat jalan bareng ke acara janjian kita! How humble she is! Dan dari beberapa date kita, gw tahu bahwa dia enak dan asik banget orangnya kalau diajak ngobrol, dan emang profesional banget. Dia tau banget nempatin diri kapan bisa serius dan bisa sedikit relax… Tapi namanya ngobrol ama profesor yaaah, tetep aja, apa juga terdengar analitis ihhieiheihe bahkan untuk hal-hal sehari-hari…

Gak akan habis deh kalau nyeritain uniknya dan pinternya adviser gw ini…. Yang jelas, di antara semua kesulitan proses ini, gw belajar banyak banget dari dia, both personally and academically…. Di antaranya, dia ngajarin pemilihan kata yang tidak judgmental, tidak racist, tidak mendiskriminasi, yang mungkin buat mata awam adalah netral. Kemampuan gw untuk melihat yant tersirat bener-bener diasah di bawah bimbingan KT….

Dan….. dalam seminggu ini, alhamdulillah udah ada dua berita baik dari adviser gw….. She is being really fair… Saat gw bagus, dia kasih komen bagus (yang rasanya bisa bikin gw terbang ke langit ke tujuh hanya untuk melihat komen dia : This is good/I like this part…. di antara lautan komentar kritis dia hihiehiehieihe)…..

Dan, perjalanan ini masih akan membuat gw begadang, nangis, tertatih, tapi insya Allah gw akan sampai ke titik terang itu….. dan untuk terus belajar…. dan untuk terus berjalan…..

Dampak lain adalah gw jadi sering linglung kata L hahahaha. Ditanya apa, jawabnya… ihiehiheihee pikiran gw emang secara sadar dan tidak, selalu tertuju pada si D! My baby D😀

Keep going, keep going, Nelly! The future belongs to those who don’t stop…..

As the say: Every little struggle matters. Nothing is wasted. Keep going.

#PNW

#Ramadan 2016

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s