Berpuasa dan berlebaran: Dalam ritme yang berbeda


Tahun ini adalah tahun ke-12 saya merasakan Ramadan dan Idul Fitri di luar Indonesia. Tentu ada rindu dan memori yang seringnya hadir membawa kenangan, tetapi hidup bagi tiap dari kita adalah perjuangan di medannya sendiri, yang tak perlu sama, dan tak mungkin sama.

Dalam 12 tahun ini, saya seringkali menerima banyak pertanyaan, yang saya (harus) pahami latar belakang dan kenapanya. Menjadi demikian pengertian adalah satu hal yang sangat penting dilakukan bagi seorang pengembara (sojourner), karena ia berada di titik di mana ia sudah pernah berada di sisi lainnya. Mungkin kadang melelahkan, untuk terus memberikan pengertian, kadang jika ego sedang ingin dimanja, saya memang ingin sebaliknya.

Saya mengumpulkan beberapa note, yang saya ingin keluarkan sedikit di hari ini, mengenai beberapa pertanyaan, yang datang dari beberapa teman, kolega, dan handai taulan, sbb:

  1. Lebaran pulang gak? Saya dan beberapa teman sering kali mendapat pertanyaan ini. Saya paham sekali bahwa tradisi mudik adalah sebuah “kewajiban” dan ritual penting di hari raya. Tanpanya, lebaran seperti ada yang kurang. Tidak lengkap. Tidak genap.

Tapi ijinkan saya (yang mungkin mewakili beberapa kawan), memberikan sedikit penjelasan dari sisi kami.

Ramadan dan Lebaran, seringnya tidak berada pada waktu-waktu libur di negara tempat kami berkarya. Tidak seperti di Indonesia di mana pemerintahnya memberikan setidaknya seminggu (atau lebih, kira-kira sebanyak itu, dan pastinya lebih dari 1 atau 2 hari), di negeri tempat kami berkarya, kami bahkan masih harus bekerja setelah selesai sholat Eid. Bisa saja mengambil cuti di hari itu, tetapi ada banyak pertimbangan administrative yang harus dipertimbangkan. Intinya, merayakan lebaran tetap menjadi penting, namun mungkin kami tidak punya keluangan waktu yang sangat banyak untuk merayakannya. Biasanya setelah sholat Eid, ada yang kembali ke kampus, ke kantor, dll jika memang terjadi di hari biasa. Perayaan dilakukan dengan komunitas masing-masing di hari lainnya, biasanya pada akhir Minggu. Di momen itulah, setidaknya kami bisa merayakan “rasa lebaran” (sedikitknya) seperti di rumah kami, dengan teman-teman baru yang akhirnya terasa seperti keluarga,  dengan berbagai masakan Indonesia, dll. Mungkin tidak semeriah jika berlebaran di kampung, tetapi setidaknya space ini sedikitnya memberikan cita rasa “berlebaran di Indonesia.” Sedikit saja, tidak banyak. Namun cukup mengobati rasa rindu.

Masalah lain yang dihadapi oleh beberapa keluarga adalah masalah ongkos pesawat yang tidak murah dari negara yang kami tinggali. Dan masalah menjadi lebih berat, saat tiket yang dibeli bukan hanya satu, tapi bisa saja lebih dari dua atau tiga tergantung dari jumlah anggota keluarga.

Maka, membuat “Ruang Indonesia” menjadi setidaknya sebuah solusi dalam merayakan hari raya. Itulah “mudik” kami. Mudik dari kegiatan seharian ke hari kebersamaan.

  1. Sholat terawih gak? I’tikaf gak? Pertanyaan ini agak tricky untuk dijawab apalagi jika ditanyakan kepada beberapa teman yang berpuasa di bumi belahan Utara, di mana waktu Isya dan Terawih bisa terjadi di jam 11 atau tengah malam. Saya tentu saja tidak mengeneralisasi semuanya. Tapi saya dan beberapa teman kesulitan akan waktunya. Dengan kondisi besok hari kami harus berada di kantor pagi hari, kadang sulit untuk melaksanakan sholat terawih berjamaah. Apalagi jika masjid tidak berada dekat tempat kami tinggal. Tentu saja ada yang hadir untuk berterawih, namun, terkadang buat banyak orang, kondisinya tidak semudah jika dibandingkan dengan teman-teman di Indonesia. Juga, jika di Indonesia, puasa di bulan Ramadan bisa mendapatkan keringanan untuk datang lebih siang atau pulang lebih cepat, di beberapa negara tempat kami berkarya tidak demikian adanya. Beberapa kawan dan kolega tetap harus berkarya seperti biasa.

Saat saya di US dan sempat Ramadan di Belanda, berpuasa setidaknya 18-20 jam benar-benar membuat tubuh lelah luar biasa. Dalam doa saya berucap, “Ya Allah, semoga panjangnya jam berpuasa dan panasnya udara di Musim panas ini bisa setidaknya mengganti jika saya alfa dalam terawih saya.” Kali lain teman lain berkata,”Saya rasa bekerja saya adalah ibadah Nel, jadi semoga Allah melihat ini dan tidak menistakannya.”

Ilmu agama saya belum cukup untuk memutuskan apa yang kami minta dan lakukan ini setidaknya bisa mengganti ibadah sholat Terawih atau tidak, tapi saya berdoa semoga Allah yang Maha Penyayang bisa melihatnya dan tidak meniadakan ibadah kami yang lain.

Saya percaya Allah Maha Adil. Kadang memang manusia yang seringnya kejam terhadap yang lain. Semoga tidak.

 

Di Auckland, untuk soal waktu agak lebih baik, sholat Isya lebih cepat, insya Allah terawih bisa dilaksanakan. Mesjid pun agak banyak, dibandingkan dengan beberapa kota tempat saya tinggal dulu. Tetapi keadaan setiap orang memang berbeda-beda.

 

Semoga Allah bisa melihat dan menimbang amal kami.

Akan ada beberapa hal lagi, tapi mungkin saya akan sambung lain kali.

 

Mohon maaf lahir dan batin.
Selamat Idul Fitri.

Semoga kita kembali Fitri.

1439 H/Juni 2018

Advertisements

Bahasa gado-gado: English in Indonesian popular texts


My first article derived from my dissertation has just recently published by the World Englishes.

Abstract:

Utilizing an interpretive textual analysis, I examine how the socio-political situation has influenced language selection in the period following Suharto’s rule (1966-1998), popularly known as the Reformasi era. Whereas national identity has been heavily government-imposed and homogenous, in large part due to governmental regulation of language use, popular texts demonstrate that Indonesian identities are in fact multi-faceted. I shed light on language selection (bahasa gado-gado) as a strategic mechanism of resistance toward policies and social norms that privilege monolingualism.

You can download and access the article here: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/full/10.1111/weng.12313

If you have further inquiry,  you can contact me at:

Correspondence

Nelly Martin-Anatias, Institute of Culture, Discourse, and Communication

Auckland University of Technology

Level 11, AUT Tower

Auckland 1142, New Zealand

Email: nelly.martin@aut.ac.nz

Menjadi Muslim dan menjadi Indonesia: Sebuah catatan


Menjadi Muslim di negeri jauh

Tepat dua minggu yang lalu, saya berdiri memberikan sebuah presentasi, tentang pengalaman saya menjadi Muslim di dan dari Indonesia di hadapan civitas akademika di sebuah universitas di Auckland, New Zealand. Sebuah autoethnography, kajian riset ilmiah di mana peneliti menggunakan her own lived events sebagai sumber penelitian.
Sebelum memulai presentasi, saya memberikan latar belakang tentang Indonesia, dan bagaimana keIndonesiaan dibangun.
Waktu saya menjelaskan tentang Islam (belajar dari pengalaman sebelumnya dan supaya jelas dari awal), saya katakan kepada audience: “After my first presentation about a month ago, I received some questions questioning my being as a Muslim. So, I need to clarify from early on that I don’t hate Islam. Please don’t ask me why I am still a Muslim and I am still wearing hijab. Until today, I still treat and see them as my home in which I feel comfortable. If anything, this is a critical viewpoint from which I try to challenge some interpretation of the conservative camps. In other words, some of the Islamic interpretation coming from some people do not sit well with me.”


Dan saya melanjutkan, “Indonesia is home for the biggest number of Muslims in the world. And Islam in Indonesia is relatively tolerant and peaceful. There are some notable religious tensions post-Reformasi era, but it should not define what Islam is. There are a number of Muslims in Indonesia and from Indonesia who are peace-loving and open-minded and you are looking at one of them now, right in front of you.” bla, bla, dan saya pun masuk ke dalam framework and analisis saya. 
Presentation was done. An engaging one, I guess.

As expected, I still received some question from the audience,” I don’t think it’s a matter of interpretation. It’s actually the religion itself.” While I could always argue that “text is a matter of interpretation,” I didn’t take that route. Instead, I explained it from a quite personal approach.
To my best defence, I narrated a number of stories coming both from my personal and communal account to prove my point that there are still a number of Muslims who love peace. We distinguish ourselves from this radicalism and terrorism. I told them, “I have been living as a minority for more than ten years now, so I know how it feels to be treated unfairly and impartially just because of some of the identifications that I have. Through this knowledge, I offer my understanding and empathy of how some of my minority friends may go through and face in my country, in Indonesia. Being a minority is not easy. We are always in our constant awareness that whatever we do, it can be subject to other people’s scrutiny, in one way or the other.  I make friends with them and respect them for what they are.  We understand that we may be different, but we are in harmony. I don’t share some hoax or false news or some of those intolerant speeches that tend to polarize us. For me, it’s not “we” or “they,” it “us.” Some of my friends are Catholics, Hinduism, Chinese-Indonesians, etc.”

My aim was that I wanted to inform them that there are a number of Muslims in Indonesia who love peace and treat differences as parts of our life. We believe that the “Unity in Diversity” is not only a motto, but it’s actually the way of life. I don’t want to entertain my majority prestige, given that I have been also subject to minorities myself in many life circumstances. 
Beberapa hari setelah itu, saya mendapatkan respon yang cukup baik. Beberapa Mahasiswa dan professor melihat ini sebagai educational presentation. Some of them understand Islam much better. Islam is not one singular entity- just like any other identification in this world. It has many faces and many layers. And we, most of the Muslims, should not be defined by only the actions of these terrorists.  In other words, our Islam and our humanity should not be defined by these “people.”

Just when I thought that terrorism was not happening again, I was wrong. I knew and understand that some radicalism had been happening which we could see from some posts of friends on social media, Whatsapp Groups, but I didn’t expect that it could be …. this worse.

 

 

Time of trouble

Dan kemarin, saat mendung di Minggu pagi, di Auckland, saya mendengar sebuah aksi kekerasan terjadi di Paris, dan tak berapa lama berselang, di negeri saya sendiri, di Surabaya.
Saya menahan diri untuk tidak bersuara karena khawatir akan menjadi salah dan memperkeruh suasana.
Dalam keterdiaman saya, sebenarnya saya mengobservasi. Beberapa hari sebelumnya, saat terjadi peristiwa terorisme di Mako Brimob, saya kaget saat mendapati, bahwa media sosial saya bisa sedikit banyak menunjukkan sebuah trend yang sedang terjadi. Kesenyapan vs. Rasa kebangsaan.

Sebuah perbedaan yang cukup mencolok. Untuk seorang peneliti, hal ini menyiratkan sesuatu. We can’t take this thing for granted. Akhirnya, dengan berbekal sedikit banyak pengetahuan netnography, saya menjadi tahu dan setidaknya bisa meraba apa yang sedang terjadi.
Saya masih diam. Saya masih menimbang. Saya masih ingin mencari tahu lebih banyak.
Tren ini muncul kembali. Sejak Mako Brimob sampai Peristiwa Surabaya. Saya lagi-lagi membaca sebuah kesenyapan.

 
What can we do then?

Rasa diam saya terusik, karena saya lagi-lagi mendapati “absennya ungkapan belasungkawa” di beberapa group yang saya dan suami ikuti. Again, I can sense something is brewing. Saya pun membaca beberapa sumber, dan akhirnya saya pun sedikit paham.

Sepertinya, ada yang terjadi dalam wacana kebangsaan kita.

Tentu, saya sadar betul, bahwa menjadi diam ataupun bersuara adalah sebuah pilihan yang paling mendasar dari hak asasi kita. Beberapa orang bisa saja berdoa dalam diam. Beberapa memilih untuk mengambil jarak, merenung sebelum mengeluarkan pernyataan.

Tapi saya juga mengerti, saya harus tidak menjadi diam. Saat itu, dalam kesadaran penuh saya, saya merasa bahwa diamnya saya bisa jadi adalah sebuah persetujuan atas darurat kemanusiaan yang sedang terjadi.

Dalam perenungan saya semalam, saya pun terkejut saat mendapati beberapa berkomentar di ruang media sosial. Beberapa komentar yang sama sekali tidak berprikemanusiaan. Sebuah ungkapan sektarian: komentar yang menyiratkan seolah kemanusiaan dan keIndonesiaan menjadi seolah tidak lagi penting dan mengikat.
Lalu, saya bilang ke Lesky,” Les, can’t others see that this is about humanity? The victims are human. Just like us. And how come one can make such a comment like that? These people are praying to their God. Can’t people see that? I would be so sad and exasperating if I were treated like that just because of my religion.”

At that time, I was already in tears. 
I have been living as a minority in a few cities, for a number of years. Saya, sebagai minoritas di sini dan di beberapa tempat, cukup mengerti bagaimana kami harus berhati-hati. Dengan jilbab saya, terkadang hidup bisa menjadi tidak mudah, karena beberapa orang bisa dengan seenaknya “memukul rata” saya dan afiliasi saya. Dengan kata lain, jika hidup saya tidak diperdulikan hanya karena saya berafiliasi dengan agama tertentu, saya akan sakit sekali.
Saat itulah, akhirnya saya membuat pernyataan. Saya ingin setidaknya memberikan pesan: Bahwa saat ini yang sedang terjadi adalah menyangkut kemanusiaan kita. KeIndonesiaan kita.

Saya berdiri di seberang siapapun yang membuat pernyataan seolah-olah darah dan tubuh orang lain adalah “halal” hanya karena kita berbeda.
Berbicaranya saya adalah sebuah penanda: Saya tidak ingin sama dengan pemahaman yang percaya bahwa mereka boleh menyakiti orang lain. Agama yang saya yakini mengajarkan kasih sayang dan tolong menolong terhadap sesama manusia. Dan, maaf, jika kita berbeda keyakinan soal ini.

Saya juga tidak ingin disamakan dengan mereka yang gemar membagi berita-berita palsu penuh kebencian. Mereka yang gemar membagikan meme-meme berisi ucapan “yang merasa beragama” dan mengkafirkan orang lain. Saya tidak sepaham dengan mereka yang mengajarkan anaknya untuk membenci anak lain, hanya karena tidak seagama. Tidak. This type of interpretation is not shared with me either. 

Saya juga tidak ingin disamakan dengan mereka yang tidak punya rasa kemanusiaan.
Karena Islam yang saya tahu, dan saya pelajari sejak saya kecil, adalah Islam rasa damai, yang Rahmatan lilalamin. Islam yang mencintai kemanusiaan, bukan membinasakannya.

And again, I have to say that it’s NOT the religion. It’s the interpretation of some people that I challenge. And I don’t share theirs. 

 
Auckland,
14 Mei 2018
Di tengah rasa duka yang mendalam