Growing old together for us is here. at this moment.


Pagi tadi, saat Madison masih saja tertutup kabut. Kulihat kamu masih terlelap. Dengan buku yang tergeletak di atas meja, samping kasur. Pelan-pelan kuberanjak, mengendap-endap, khawatir membangunkan kamu, yang begadang sepanjang malam, membaca.

Kubersiap. Hari Sabtu. Our cheating day: hari di mana kita membebaskan rasa. Tidak perlu jus hijau, dan bisa makan apa saja. Sejak tadi malam, aku tahu Batchbake House akan kudatangi sebelum ke perpustakaan.

Kucium pipi kamu. Lembut. Khawatir kamu terjaga. “Aku pergi ya. Nanti aku beliin kamu Vanila Swirl, kesukaan kamu.” Saat kuhendak berlalu, “Aku ikut donk. Udah bangun nih.” Suara kamu. Masih setengah melek.

“Lho, kamu bukannya masih ngantuk. Tadi malam baca sampai jam berapa?” Suaraku.

“Ehm, jam 4 subuh.”

“Ya udah, ga usah ikut. Tidur aja.” Kataku, iba. Setelah pulang kerja, kamu cuma tidur 1 jam, sebelum jogging dan baca semalam suntuk.

“Gak papa, aku ikut aja. Aku bisa sambil baca di mobil.”

Menunggu kamu bersiap-siap, kuberanjak ke balkon. Langit di atas Lake Mendota, mendung.

Lima belas menit kemudian, kami sudah siap menuju ke parkiran. Seperti biasa, niatku untuk jahil tiap lihat wajah orang ini. Kukelitik-litik ehm bagian yang cuma kamu yang tahu :). Sampai, akhirnya tanganku ada di dalam genggaman kamu.

“Kalo suami lain menggenggam istrinya khawatir istrinya belanja ya. Kalo kamu, cuma gara-gara takut dikelitikin.” Aku terkekeh.

“Iya, susah punya istri jail.” Wajah kamu seperti biasa, datar. :D

Di elevator. “Tadi malam kamu ngigonya seru tuh, babe. Ngomongnya banyak banget. Aku jawab aja, sampe kamu selesai trus tidur lagi. Inget gak?” Kata kamu.

“hihihi, engga. Emang ngomong apa?” Kataku penasaran.

“Banyak. Ada yang minta dibeliin kayu lha, minta buka pager lha, banyak deh. Kamu inget gak pindah ke kamar (dari ruang tamu)?”

“Engga. Tadi malam kan aku nemenin kamu belajar, gantian biasanya kamu yang nemenin aku, makanya aku di sofa. Kok pagi-pagi aku udah di kamar ya?”

“Tadi malam pindah. Sambil tidur. Minta dipasangin kipas angin, karena kegerahan. Gak inget?” Kata kamu, mencoba memancing memori tadi malam. Aku menggeleng. Kebiasaan jalan dalam tidur, masih berlanjut rupanya. Hehehe

Tiba di parkiran. “Aduh aku gak bawa kacamata. Kamu yang nyetir ya,” Kata kamu.

“Lha emang aku yang nyetir. Kan awalnya aku mau pergi sendiri, kamu aja ikut-ikutan.” Kataku sambil menjulurkan lidah.

Sepuluh menit kemudian, kamu dan aku sudah berada di East Washington. Lalu lintas Sabtu pagi di Madison, seperti biasa, tidak terlalu ramai, tapi juga tidak terlalu sepi. Sebagian penduduk Madison masih terlelap usai pesta tadi malam, sebagian lagi harus mencari sarapan. Kami di kelompok kedua.

Selama perjalanan, sperti biasa, kamu adalah polisi lalu lintas atau malahan guru PPKN? Kamu selalu make sure aku gak overspeed, tidak malah ngebut saat melihat lampu kuning, dan tidak melewati garis pembatas stop. Kamu juga yang akan paling cerewet, saat kita minggir memberi jalan ambulans lewat, supaya aku memberi waktu, tidak tailing ambulans. Kamu, buat aku itu, seperti polisi lalu lintas, parking reinforcer, atau malahan Bapak yang selalu khawatir anaknya kena tilang atau denda? :)

Apapun itu, L. Aku udah sering merenung, kenapa kita ditakdirkan ketemu lagi ya hari itu? Mungkin salah satunya ini, karena kamu selalu jagain aku, orang yang lebih seringnya berantakan dan lebih seneng acak-acakan. Kamu juga yang selalu dengerin aku, karena aku selalu punya banyak cerita buat kamu, tiap hari.

Udah dua puluh tahun kita kenal ya, L, sepuluh tahun di antaranya, kita udah bareng-bareng hehehe. Tinggal jauh dari keluarga dan berpetualang ke negeri-negeri asing bareng kamu selalu meninggalkan cerita sendiri. Bounding kita udah melalui banyak masa, cerita, tempat, waktu dan peristiwa. Kesasar di Belgium, nyari alamat hotel sampe tengah malam di Tokyo, nyari makan di Paris, jalan-jalan di taman kota di Leiden, liat-liat benda unik di Sex Museum Amsterdam, menatap langit Manhattan, jalan kaki sampe pegel di Kota Boston dan banyak tempat lainnya. Kalo kata kamu, “There are so many places waiting for us, Nelly. Let’s see them together.”

“Iya, L. Let’s stay healthy and travel the world.” Seperti janji kamu ke aku, saat kamu melamar dulu ya! Ke manapun, rasanya jadi lebih lucu dan lebih unik kalo kita bareng-bareng. Growing old together for us is here. at this moment.

Kado ulang tahun buat kamu. kita. Di bulan Juni. Tahun 2015.

*Sabtu pagi. Perpustakaan Law. Udah lama gak nulis untuk dan buat L. Sahabat paling sahabat dalam hidup saya. Madison, Juni. 2015

Karena kisah harian lebih sering diabaikan. Saya ingin menulisnya. Untuk pengingat, jika hidup sedang tidak bersahabat.

Martabak ini kelewat spesial


Martabak ala L!

L! Minggu pagi, setelah dia selesai urusan paginya, nanya: “Mau aku bikinin apa, babe?” Maksudnya buat sarapan. Karena L udah janji bikin martabak sejak minggu lalu, dan karena dia sibuk banget, maka kutagih janji itu, di Minggu pagi berhujan ini.

Di dapur L sibuk. Potong-potong, goreng-goreng. Sampai tersajinya martabak ini. Mungkin martabak ini biasa aja, tapi kalau dikaitkan dengan transformasi L sejak dulu, buat saya jadi luar biasa.

L yang lahir seperti kebanyakan anak lelaki di Indonesia lainnya, dulu punya pandangan bahwa dapur adalah arena wanita. Maklum dia besar diasuh satu orang pembantu sejak kecil sampai dia kuliah, selain mamanya yang wanita karir, tentunya. Perjalanan L ke Belanda untuk kuliah, dan pisah benua dengan diriku yang saat itu kuliah di US, yang membawa L mulai mendekati dapur- untuk bertahan hidup! Hahahaha

Setelah kami bersama lagi, dan saat melihat istrinya yang sedang sekolah, L pun dengan sangat pengertian berbagi beban di apt mungil kami. Bersama kami berbagi urusan domestik. Weekdays sih, hampir selalu aku yang masak, karena L udah selalu capek pulang kantor. Weekend biasanya dia suka manjain istrinya dengan masakan-masakan sederhana dia, mulai dari bubur sumsum, banana bread, martabak telur, bakwan sampai bakso!

Kata L: “Kita sama-sama aja beresin dan masaknya. Kamu sibuk, saya juga. Jadi apt bukan hanya urusan kamu, tapi juga urusan saya. Urusan bareng-bareng.”

Ah, L, selalu bisa bikin aku terharu!

#PhDLife #Madison # Spring 2015

On Marriage By Kahlil Gibran


On Marriage  Kahlil Gibran You were born together, and together you shall be forevermore. You shall be together when the white wings of death scatter your days. Ay, you shall be together even in the silent MEMORY of God. But let there be spaces in your togetherness, And let the winds of the heavens dance between you. 20141127_234411 Love one another, but make not a BOND of love: Let it rather be a moving sea between the shores of your souls. Fill each other’s CUP but drink not from one cup. Give one another of your bread but eat not from the same loaf Sing and dance together and be joyous, but let each one of you be alone, Even as the strings of a lute are alone though they quiver with the same MUSIC. Give your hearts, but not into each other’s keeping. For only the hand of Life can contain your hearts. And STAND together yet not too near together: For the pillars of the TEMPLE stand apart, And the oak tree and the cypress grow not in each other’s shadow. -November 28, 2014 Madison, Wisconsin Happy Anniversary to my soulmate, L.